Headline.co.id, Kepulauan Selayar ~ Tim SAR gabungan kembali menemukan satu jenazah yang diduga berkaitan dengan kecelakaan KM Nurul Salsa dalam operasi pencarian di kawasan Laut Flores, Selasa, 21 Juli 2026. Selain jenazah, petugas juga menemukan sejumlah barang yang diduga milik korban di sekitar Perairan Sabalana, Sulawesi Selatan. Penemuan tersebut diperoleh ketika pencarian terhadap 18 orang yang belum ditemukan terus diperluas dengan mengerahkan unsur laut dan udara. Identitas jenazah serta kepemilikan barang temuan masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut sebelum dipastikan secara resmi.
Perkembangan terbaru itu menjadi petunjuk baru dalam operasi pencarian yang telah berlangsung sejak KM Nurul Salsa tenggelam di perairan sebelah barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, pada Rabu, 15 Juli 2026. Tim SAR menggunakan informasi dari penyintas, pergerakan arus, arah angin, dan temuan di laut untuk menentukan sektor penyisiran berikutnya.
Data operasi sebelum penemuan jenazah terbaru mencatat 78 orang berada dalam daftar korban. Sebanyak 59 orang dinyatakan selamat, satu orang meninggal dunia, dan 18 orang masih dicari. Hingga informasi identifikasi dan pemutakhiran data diumumkan, penemuan satu jenazah tersebut belum serta-merta mengubah angka resmi korban.
Jenazah Masih Menunggu Proses Identifikasi
Jenazah yang ditemukan disebut masih berstatus diduga korban KM Nurul Salsa. Penggunaan istilah tersebut penting karena identitas korban belum dipastikan melalui proses pemeriksaan dan pencocokan dengan data orang yang dilaporkan hilang.
Tim berwenang perlu memastikan identitas sebelum memasukkan temuan itu ke dalam pembaruan jumlah korban meninggal. Keluarga korban juga memerlukan hasil identifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan agar tidak terjadi kekeliruan informasi di tengah operasi yang masih berkembang.
Barang Temuan Menjadi Petunjuk Pencarian
Dalam penyisiran di sekitar Kepulauan Sabalana, tim SAR menemukan barang yang diduga berkaitan dengan penumpang KM Nurul Salsa. Sebelumnya, KRI Marlin-877 juga menemukan satu rompi pelampung bertuliskan KM Nurul Salsa di perairan utara Pulau Sanipadan.
Barang-barang yang ditemukan tidak langsung dianggap sebagai bukti kepemilikan korban tertentu. Tim SAR terlebih dahulu menganalisis lokasi penemuan, kondisi arus, arah hanyut, serta keterkaitannya dengan titik-titik tempat penyintas sebelumnya ditemukan.
Temuan di laut dapat membantu mempersempit atau menggeser fokus pencarian. Informasi dari nelayan dan masyarakat pesisir juga dibutuhkan karena benda yang hanyut dapat bergerak jauh dari lokasi kapal tenggelam akibat arus dan angin.
Area Pencarian KM Nurul Salsa Diperluas
Basarnas bersama TNI, Polri, nelayan, dan unsur SAR lainnya memperluas area pencarian hingga sekitar 1.980 mil laut persegi pada hari keenam operasi. Wilayah tersebut dibagi menjadi lima sektor dengan luas masing-masing sekitar 396 mil laut persegi agar penyisiran dapat dilakukan secara terkoordinasi.
Direktur Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas RI Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo menjelaskan bahwa prediksi pergerakan korban mengarah ke barat daya. Berdasarkan pemodelan pencarian, korban dimungkinkan terbawa arus menuju kawasan yang lebih jauh, termasuk perairan yang mengarah ke Nusa Tenggara Barat.
Unsur pencarian yang dikerahkan meliputi KN SAR Kamajaya dari Makassar, KN SAR Pacitan dari Kendari, dan KN SAR Puntadewa dari Maumere. TNI Angkatan Laut mengoperasikan KRI Marlin dan KRI Hiu, sedangkan dukungan udara mencakup pesawat patroli maritim Boeing 737-200 serta helikopter Caracal yang disiagakan.
Sebanyak 18 Orang Masih Dalam Pencarian
Sebelum temuan jenazah terbaru teridentifikasi, sebanyak 18 korban masih tercatat dalam pencarian. Angka itu berasal dari hasil verifikasi laporan keluarga di posko setelah data jumlah orang di atas kapal beberapa kali diperbarui.
Yudhi Bramantyo menyatakan bahwa tim SAR akan terus mengerahkan kemampuan yang tersedia untuk menjangkau area pencarian yang semakin luas. Kepala Kantor Basarnas Makassar Muhammad Arif Anwar juga menyebut penambahan personel dan armada dilakukan untuk meningkatkan peluang menemukan korban.
Pencarian menghadapi tantangan berupa luasnya wilayah operasi dan gelombang laut yang dilaporkan berada pada kisaran dua hingga tiga meter. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan dalam pembagian sektor, pemilihan armada, dan keselamatan personel di lapangan.
Kronologi KM Nurul Salsa Tenggelam
KM Nurul Salsa berangkat dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Kepulauan Selayar, pada Rabu, 15 Juli 2026, sekitar pukul 05.00 WITA. Dalam perjalanan, kapal mengalami gangguan mesin di perairan barat Pulau Polassi, sekitar 43 mil laut dari Pelabuhan Benteng.
Gangguan mesin terjadi ketika kondisi cuaca dan perairan dilaporkan tidak mendukung. Kapal kemudian tenggelam sehingga penumpang dan awak harus menyelamatkan diri dengan alat apung yang tersedia atau bertahan di laut hingga ditemukan kapal lain.
Operasi SAR telah menemukan sejumlah korban dalam kondisi selamat, termasuk lima orang pada hari keempat dan dua orang pada hari kelima. Pencarian tetap dilanjutkan dengan fokus pada Laut Flores, Kepulauan Sabalana, serta wilayah yang diperkirakan menjadi jalur hanyut korban dan barang dari kapal.



















