Headline.co.id, Kansas City ~ Lionel Messi gagal mencetak gol untuk pertama kalinya setelah rangkaian sembilan pertandingan Piala Dunia, tetapi tetap membantu Argentina mengalahkan Swiss 3-1 pada perempat final Piala Dunia 2026 di Kansas City, Minggu, 12 Juli 2026 waktu Indonesia. Catatan gol beruntunnya berhenti karena pertahanan Swiss menutup ruang tembak dan memaksa Argentina bekerja hingga perpanjangan waktu. Lionel Messi tetap berperan melalui sepak pojok yang menghasilkan gol Alexis Mac Allister, sebelum Julian Alvarez dan Lautaro Martinez memastikan kelolosan. Seusai laga, kapten berusia 39 tahun itu merayakan kemenangan dengan membuka bajunya dan tersenyum lebar, sebuah reaksi yang mencerminkan kelegaan setelah pertandingan sulit.
Lionel Messi memasuki laga melawan Swiss dengan status sebagai salah satu pemain paling produktif Argentina pada turnamen. Rangkaian golnya membentang dari pertandingan Piala Dunia sebelumnya dan berlanjut pada edisi 2026. Ketika ia tidak mencetak gol di Kansas City, perhatian publik segera tertuju pada berakhirnya rekor tersebut. Namun, jalannya pertandingan menunjukkan bahwa fungsi Messi di Argentina jauh lebih luas daripada penyelesaian akhir.
Pada menit ke-10, tendangan sudut Lionel Messi diarahkan ke area yang dapat dijangkau Mac Allister. Sundulan gelandang Argentina itu membawa timnya unggul 1-0. Swiss kemudian menyamakan skor lewat Dan Ndoye pada menit ke-67 dan bertahan dengan sepuluh pemain setelah Breel Embolo mendapat kartu merah lima menit berselang. Argentina baru memperoleh gol kedua pada menit ke-112 melalui tendangan jarak jauh Alvarez, lalu menambah gol lewat Lautaro Martinez pada penghujung pertandingan.
Rekor Gol Lionel Messi Berhenti, Pengaruhnya Tetap Terlihat
Rekor gol beruntun sering menjadi ukuran yang mudah dipahami karena menghasilkan angka yang jelas. Dalam kasus Messi, sembilan pertandingan berturut-turut dengan gol merupakan pencapaian penting di turnamen yang mempertemukan lawan berkualitas tinggi dan memiliki jeda panjang antaredisi. Berakhirnya rangkaian itu tidak menghapus catatannya. Rekor tersebut tetap menjadi bagian dari sejarah performa Messi di Piala Dunia, sementara kesempatan mencetak gol kembali terbuka pada semifinal.
Pengaruh Messi terhadap Swiss justru tampak dari cara lawan menjaga ruang di sekitarnya. Ketika beberapa pemain memberi perhatian kepada satu pengatur serangan, ruang dapat terbuka bagi pemain lain. Argentina memanfaatkan mekanisme tersebut melalui pergerakan Mac Allister, Alvarez, dan Martinez. Messi juga beberapa kali turun lebih dalam untuk menghubungkan lini tengah dengan serangan, sehingga Argentina tidak harus selalu mengirim bola langsung ke area penalti. Kontribusi semacam ini tidak selalu tercatat sebagai gol, tetapi tetap menentukan struktur permainan.
Peran Messi dalam bola mati juga memperlihatkan bahwa kontribusi seorang pemain tidak hanya diukur dari sentuhan terakhir. Akurasi umpan sudut, pemilihan sasaran, dan kemampuan membaca pergerakan rekan setim menjadi bagian dari proses terciptanya gol. Pada laga yang berjalan rapat, situasi seperti itu dapat lebih bernilai daripada penguasaan bola yang panjang tanpa peluang. Gol Mac Allister memberi Argentina dasar untuk mengendalikan pertandingan sebelum Swiss mampu menyamakan kedudukan.
Mengapa Lionel Messi Masih Penting pada Usia 39 Tahun
Lionel Scaloni sebelum perempat final menilai Messi masih berada pada tingkat tertinggi selama sang pemain ingin terus bermain. Penilaian itu berkaitan dengan kemampuan Messi memilih momen, bukan hanya mengandalkan kecepatan seperti pada fase awal kariernya. Pada usia 39 tahun, ia lebih sering mengatur posisi untuk menerima bola di ruang sempit, mempercepat serangan dengan satu sentuhan, atau menahan bola sampai rekan setim memperoleh jalur lari. Pengelolaan energi tersebut membantu Messi tetap efektif dalam pertandingan yang berlangsung panjang.
Argentina juga tidak lagi harus menuntut Messi menyelesaikan setiap serangan. Gol kemenangan atas Swiss datang dari Alvarez dan Martinez, sedangkan gol pertama dicetak Mac Allister. Penyebaran kontribusi ini penting karena lawan pada fase akhir turnamen akan semakin fokus membatasi Messi. Ketika pemain lain mampu mencetak gol, Argentina memperoleh lebih banyak variasi dan lawan menghadapi dilema antara memperketat penjagaan kepada Messi atau membagi perhatian kepada penyerang serta gelandang lain.
Selebrasi Messi dan Makna Kelolosan Argentina
Selebrasi Messi setelah peluit akhir menjadi salah satu momen yang banyak dibicarakan. Ia membuka baju dan tersenyum lebar ketika Argentina memastikan tempat di semifinal. Reaksi itu dapat dipahami sebagai luapan lega setelah Swiss memaksa pertandingan melewati waktu normal dan bertahan lama meski bermain dengan sepuluh orang. Argentina tidak memperoleh kemenangan mudah, sehingga ekspresi kapten menggambarkan besarnya tekanan yang baru saja dilewati tim.
Kelolosan tersebut juga menjaga peluang Argentina mempertahankan gelar Piala Dunia. Belum ada tim yang menjadi juara dua edisi berturut-turut sejak Brasil melakukannya pada 1958 dan 1962. Bagi Messi, pertandingan di Kansas City memperpanjang perjalanan pada Piala Dunia 2026 dan membuka kesempatan menghadapi Inggris di semifinal. Lawan berikutnya membawa ancaman berbeda karena Jude Bellingham datang setelah mencetak dua gol saat Inggris menyingkirkan Norwegia 2-1.
Fakta terpenting dari perempat final bukan sekadar bahwa rekor Messi berhenti, melainkan bagaimana Argentina tetap menang ketika sang kapten tidak mencetak gol. Sepak pojoknya menghasilkan gol pembuka, pemain lain mengambil tanggung jawab penyelesaian, dan tim bertahan sampai menemukan jalan pada perpanjangan waktu. Semifinal melawan Inggris akan menunjukkan apakah pola tersebut dapat dipertahankan ketika tekanan meningkat dan ruang bagi Messi kemungkinan semakin sempit.




















