Headline.co.id, Jogja ~ Panas ekstrem yang melanda Indonesia kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Menurut Aditya Lia Ramadona, Ph.D., dosen dari Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial FKKMK UGM, heat stroke adalah gangguan kesehatan berat akibat paparan panas yang dapat mengancam nyawa. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak mampu mengendalikan suhu, menyebabkan gangguan fungsi organ dan otak. Gejalanya meliputi suhu tubuh tinggi, kebingungan, hingga kehilangan kesadaran. Jika tidak segera ditangani, heat stroke dapat berakibat fatal.
Ramadona menjelaskan bahwa rendahnya kesadaran masyarakat terhadap heat stroke disebabkan oleh anggapan bahwa cuaca panas adalah hal biasa di Indonesia. Namun, peningkatan suhu yang tampak kecil dapat berdampak besar pada kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa kenaikan suhu rata-rata mingguan sebesar 1 derajat Celsius dapat meningkatkan kunjungan ibu dan anak ke layanan kesehatan primer hingga 15,5 persen. “Kenaikan suhu kecil saja dapat meningkatkan beban layanan kesehatan,” ujarnya.
Kesadaran dan Komunikasi Kesehatan
Ramadona menyoroti bahwa komunikasi kesehatan mengenai heat stroke masih kurang berkembang. Masyarakat lebih mengenal istilah dehidrasi atau kelelahan akibat panas daripada heat stroke. Akibatnya, gejala awal sering tidak dikenali, sehingga penanganan terlambat dan risiko komplikasi meningkat. Paparan panas tidak hanya terjadi di luar ruangan, tetapi juga di dalam rumah. Penelitian menunjukkan suhu di dalam rumah bisa lebih tinggi daripada suhu luar, meningkatkan risiko heat stress pada lansia hingga 32 persen.
Perlunya Kebijakan Multisektor
Menghadapi dampak panas ekstrem, Ramadona menekankan pentingnya kebijakan multisektor. Masyarakat perlu mencukupi kebutuhan cairan, mengenakan pakaian ringan, dan menghindari aktivitas fisik berat pada siang hari. Namun, langkah ini harus didukung kebijakan yang lebih luas, seperti kualitas rumah, kepadatan permukiman, dan akses terhadap air minum. “Perubahan perilaku individu penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya strategi,” tegasnya.
Sistem Peringatan Dini
Ramadona menekankan pentingnya sistem peringatan dini dan pedoman nasional mengenai panas ekstrem. Sistem ini harus disesuaikan dengan karakteristik setiap daerah, mempertimbangkan kelembapan, suhu malam, dan efek urban heat island. “Informasi cuaca panas saja tidak cukup, harus disertai tingkat risiko dan tindakan yang perlu dilakukan,” jelasnya. Langkah respons harus mencakup edukasi masyarakat, penyesuaian jam kerja, dan kesiapan fasilitas kesehatan.
Pentingnya penyesuaian pola aktivitas masyarakat juga ditekankan. Aktivitas fisik berat sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. “Perubahan kebiasaan terhadap panas ekstrem hanya akan berhasil jika didukung oleh sistem yang adaptif,” pungkas Ramadona.




















