Headline.co.id, Kelahiran Seekor Bayi Gajah Sumatra Di Lembaga Konservasi Lembah Hijau ~ Lampung, pada 5 Juni lalu, menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian satwa langka di Indonesia. Bayi gajah yang lahir dengan berat 123 kilogram ini menambah daftar keberhasilan lembaga tersebut setelah sebelumnya sukses mengembangbiakkan harimau sumatra. Keberhasilan ini menjadi angin segar di tengah ancaman penyusutan habitat, konflik manusia dan satwa, serta perburuan liar yang mengancam kelangsungan hidup satwa langka.
Prof. Dr. drh. Wisnu Nurcahyo, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, menegaskan bahwa kelahiran ini merupakan pencapaian signifikan, mengingat reproduksi gajah sumatra di lembaga konservasi bukanlah hal yang mudah. “Masa kehamilan gajah bisa mencapai 18 hingga 22 bulan, sehingga pengembangbiakannya di lembaga konservasi tidaklah mudah,” ujarnya pada Kamis (25/6).
Wisnu menjelaskan bahwa perkawinan sedarah pada gajah dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, keguguran, dan kematian anak satwa. Sebaliknya, perkawinan individu yang tidak memiliki hubungan kekerabatan memperkaya keragaman genetik dan meningkatkan nilai konservasi. “Perkawinan jantan dan betina yang bukan saudara memberikan nilai konservasi yang lebih tinggi,” tambahnya.
Keberhasilan di Lembah Hijau ini menunjukkan adanya pengamatan dan pendampingan yang baik dari dokter hewan dan mahout dalam mengelola reproduksi gajah. Wisnu menekankan bahwa konservasi ex situ memiliki fungsi berbeda dibandingkan dengan konservasi in situ. Satwa yang lahir di lembaga konservasi telah beradaptasi dengan pola hidup yang berbeda dan tidak disarankan untuk dilepaskan kembali ke alam liar.
Namun, lembaga konservasi tetap berperan penting dalam menyelamatkan dan melindungi satwa, serta sebagai sarana pendidikan konservasi bagi masyarakat. “Melalui lembaga konservasi, masyarakat dapat mempelajari berbagai aspek kehidupan satwa liar secara lebih dekat,” jelas Wisnu.
Keberhasilan di Lembaga Konservasi Lembah Hijau dapat menjadi contoh bagi lembaga lain di Indonesia. Wisnu menegaskan bahwa kesejahteraan satwa harus menjadi prioritas utama agar tujuan konservasi dapat tercapai secara berkelanjutan. “Kesejahteraan satwa harus diperhatikan, termasuk pakan, kesehatan, dan lingkungan yang nyaman,” pungkasnya.




















