Headline.co.id, Jakarta ~ Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (ASPERINDO) mendukung langkah pemerintah dalam mempercepat transformasi industri logistik nasional. Upaya ini dilakukan melalui konsolidasi penyelenggara pos dan penguatan ekonomi digital, yang dinilai penting untuk menekan biaya logistik yang masih tinggi di Indonesia. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ASPERINDO, Budiyanto Darmastono, menyatakan bahwa biaya logistik di Indonesia mencapai sekitar 24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Budiyanto menyampaikan hal ini dalam forum Digital Economy and Logistics (DEAL) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) di Jakarta pada Selasa (23/6/2026). Menurutnya, efisiensi logistik adalah prasyarat penting untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional dan memperkuat ekosistem perdagangan digital yang terus berkembang. ASPERINDO mengapresiasi langkah Kemkomdigi yang menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 8 Tahun 2025 sebagai landasan pembenahan sektor pos dan logistik.
Konsolidasi untuk Efisiensi
Budiyanto menjelaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 780 penyelenggara pos di Indonesia dengan kapasitas dan kemampuan yang beragam. Banyak dari mereka adalah usaha kecil dan menengah yang belum memiliki jaringan nasional atau sistem operasional terintegrasi. Kondisi ini menjadi tantangan dalam menciptakan efisiensi industri logistik nasional. “Kehadiran skema konsolidator yang diatur dalam regulasi terbaru menjadi terobosan penting dalam memperkuat ekosistem industri pos nasional,” ujar Budiyanto.
Saat ini, enam perusahaan telah terdaftar sebagai konsolidator dan mulai menjalankan peran menghubungkan berbagai penyelenggara pos di Indonesia. Konsolidator ini membuka peluang baru bagi perusahaan kurir berskala kecil untuk memperluas jangkauan bisnis tanpa harus membangun jaringan operasional yang mahal di seluruh wilayah Indonesia.
Peluang Baru bagi Perusahaan Kurir
Sebelumnya, banyak perusahaan kurir hanya dapat beroperasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Dengan adanya konsolidator, mereka kini memiliki kesempatan untuk menjual layanan pengiriman hingga ke berbagai daerah di Indonesia. “Skema konsolidator juga mampu meningkatkan kapasitas layanan perusahaan kurir skala kecil,” tambah Budiyanto.
Layanan berbasis Cash on Delivery (COD), yang sebelumnya lebih banyak ditangani oleh perusahaan besar, kini dapat diakses oleh pelaku usaha lainnya melalui mekanisme konsolidasi. ASPERINDO menilai perkembangan ini akan menciptakan pemerataan kesempatan usaha dan meningkatkan kompetisi yang sehat dalam industri logistik nasional.
Kontribusi Ekonomi Sektor Logistik
Data industri menunjukkan bahwa sektor logistik memiliki kontribusi ekonomi yang besar, dengan pendapatan mencapai sekitar Rp78 triliun. Sektor ini juga menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar, dengan sekitar enam juta pekerja di seluruh Indonesia. Volume pengiriman barang yang terus meningkat setiap tahun, mencapai rata-rata 25 juta hingga 27 juta paket per hari, menunjukkan bahwa sektor logistik telah menjadi tulang punggung ekonomi digital Indonesia.
Budiyanto berharap forum DEAL 2026 menjadi momentum lahirnya kebijakan dan kolaborasi konkret pemerintah, regulator, dan pelaku industri. “Keberlanjutan program konsolidasi dan penguatan regulasi akan menentukan keberhasilan Indonesia dalam menciptakan sistem logistik yang lebih efisien dan kompetitif,” pungkasnya. ASPERINDO siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk menjaga keberlangsungan transformasi industri logistik agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh pelaku usaha, termasuk perusahaan kurir berskala kecil dan menengah.






















