Headline.co.id, Jakarta ~ Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa empat tokoh pendiri bangsa Indonesia layak menyandang predikat haji mabrur. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah dialog interaktif di Kantor Kementerian Haji dan Umrah, Jakarta, pada Senin (22/6/2026). Keempat tokoh tersebut adalah Haji Agus Salim, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, dan HOS Tjokroaminoto. Mereka dinilai berhasil mengimplementasikan nilai-nilai ibadah haji dalam gerakan nasionalisme dan kemaslahatan sosial demi kemerdekaan Indonesia.
Dalam acara yang dipandu oleh Tenaga Ahli Ditjen Komunikasi Publik dan Media, Kemkomdigi, Latief Siregar, Dahnil menunjukkan foto-foto keempat tokoh tersebut yang dipajang di ruang kerjanya sebagai teladan kepemimpinan. “Mereka adalah simbol nyata dari haji mabrur,” ujar Dahnil. Ia menambahkan bahwa kontribusi keempat tokoh ini memiliki dampak yang signifikan dan melampaui zaman mereka.
Kontribusi Tokoh Nasional
Dahnil mencontohkan HOS Tjokroaminoto yang berhasil mengader arsitek bangsa seperti Ir. Soekarno melalui pendidikan di Surabaya. Sementara itu, Haji Agus Salim, seorang diplomat asal Sumatra Barat, memanfaatkan jaringan internasional yang diperolehnya setelah belajar di Mekah untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Peran Ulama Besar
Selain itu, dua ulama besar, KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan, juga disebut sebagai contoh konkret bagaimana ilmu dari Tanah Suci dapat ditransformasikan menjadi organisasi sosial-keagamaan yang berkelanjutan. KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sedangkan KH Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah.
Harapan Kementerian Haji dan Umrah
Melalui keteladanan empat tokoh nasional ini, Kementerian Haji dan Umrah berharap masyarakat dapat memaknai ibadah haji tidak hanya sebagai pemenuhan rukun Islam secara personal, tetapi juga sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian sosial dan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.
Pernyataan Dahnil ini menegaskan pentingnya mengaktualisasikan nilai-nilai ibadah haji dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks kebangsaan dan kemaslahatan sosial.




















