Headline.co.id, Batang ~ Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap II Tahun 2026 yang dilaksanakan di Desa Sigayam, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menekankan bahwa pembangunan desa tidak hanya sebatas penyelesaian infrastruktur, tetapi juga melibatkan partisipasi masyarakat dan keberlanjutan hasil pembangunan. Letkol Inf Didik Sudarmawan, Komandan Kodim (Dandim) 0736/Batang, menegaskan bahwa tujuan utama TMMD adalah mempercepat pembangunan infrastruktur desa serta memperkuat ketahanan wilayah melalui kemanunggalan TNI dan rakyat.
Dalam pelaksanaan TMMD Sengkuyung Tahap II, sasaran fisik utama berupa pembangunan jalan rabat beton sepanjang 580 meter dengan lebar tiga meter dan tebal 12 sentimeter telah berhasil diselesaikan. Program ini bahkan mencatat overprestasi dengan tambahan rabat beton sepanjang 24 meter serta pembangunan empat unit jambanisasi. Namun, menurut Didik, tantangan lapangan yang dihadapi tidak kalah besar dibanding pengerjaan fisik. “TMMD bukan hanya soal bangun jalan atau fasilitas desa, tetapi bagaimana menjaga semangat gotong royong dan keberlanjutan hasil pembangunan,” ujar Didik saat ditemui tim , Selasa (2/6/2026).
Didik menjelaskan bahwa tantangan pertama berasal dari aspek sosial masyarakat. Meskipun konsep TMMD dibangun di atas semangat gotong royong, tidak semua warga memiliki keleluasaan waktu untuk terlibat penuh dalam pengerjaan. Sebagian warga yang berprofesi sebagai petani dan peternak harus mempertimbangkan kebutuhan ekonomi sehari-hari, sehingga partisipasi lapangan sering kali hanya ditopang oleh kelompok tertentu. Selain itu, perbedaan kebutuhan antarwarga juga menjadi tantangan dalam menentukan prioritas pembangunan. Dalam musyawarah desa, terdapat beragam aspirasi mulai dari kebutuhan jalan, saluran air, hingga sarana pendukung lainnya. “Menentukan satu sasaran utama kadang membutuhkan proses panjang karena setiap warga memiliki kebutuhan yang berbeda,” kata Didik.
Tantangan lain yang dihadapi adalah menjaga konsistensi semangat gotong royong selama program berlangsung. Menurutnya, antusiasme masyarakat biasanya sangat tinggi pada tahap awal, namun mulai menurun ketika pekerjaan memasuki pekan-pekan akhir akibat kelelahan dan kondisi lapangan. Meski demikian, pola kemanunggalan tetap menjadi fondasi utama TMMD di Batang. Keterlibatan masyarakat dimulai sejak tahap perencanaan melalui musyawarah desa, dilanjutkan gotong royong saat pembangunan berlangsung, hingga pemeliharaan hasil setelah program selesai.
Dalam pengerjaan fisik, warga terlibat langsung mengangkut material, memasang batu, hingga mengaduk semen, sementara TNI memberikan dukungan teknis serta peralatan. “TMMD itu kerja bersama. Usulan pembangunan datang dari warga, pelaksanaan dilakukan bersama, dan hasilnya juga menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya. Selain pembangunan fisik, TMMD Sengkuyung Tahap II juga menghadirkan 14 kegiatan nonfisik yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan sosial masyarakat. Penyuluhan tersebut meliputi wawasan kebangsaan dan bela negara, keamanan dan ketertiban masyarakat, bahaya narkoba, perlindungan anak, pengolahan sampah, pelayanan keluarga berencana, stunting, tanggap bencana, hingga budidaya pertanian dan perikanan.
Menurut Didik, pendekatan nonfisik itu penting karena ancaman terhadap ketahanan nasional tidak selalu berbentuk konflik atau kekuatan bersenjata. “Kerawanan bisa muncul dari kemiskinan, keterisolasian, penyalahgunaan narkoba, hingga rendahnya wawasan kebangsaan. Karena itu TMMD hadir melalui pembangunan fisik dan edukasi masyarakat,” jelasnya.
Dalam perspektif TNI, desa dipandang sebagai benteng terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Desa bukan sekadar wilayah yang menerima pembangunan, melainkan subjek yang turut menjaga ketahanan nasional. Didik menyebut, konsep Pertahanan Semesta diterjemahkan melalui kemanunggalan TNI dan rakyat, kesejahteraan masyarakat sebagai daya tahan nasional, serta bela negara melalui karya nyata. “Kalau desa kuat, negara kuat. Desa yang sejahtera dan kompak tidak mudah dipecah oleh hoaks, radikalisme, maupun persoalan sosial lainnya,” katanya.
Meski pembangunan fisik telah selesai, Didik menilai tantangan terbesar justru dimulai setelah TMMD berakhir, yakni menjaga keberlanjutan manfaat. Ia mengingatkan bahwa infrastruktur yang telah dibangun memerlukan perawatan agar manfaatnya tidak berhenti dalam jangka pendek. Minimnya alokasi perawatan, alih fungsi sarana, hingga ketergantungan terhadap program bantuan dinilai dapat mengurangi dampak pembangunan. Karena itu, TNI mendorong keterlibatan aktif masyarakat melalui Karang Taruna, PKK, Linmas, dan pemerintah desa untuk menjaga aset yang telah dibangun. “Ini milik masyarakat, bukan milik TNI. Membangun mungkin selesai dalam 30 hari, tetapi merawatnya adalah pekerjaan jangka panjang,” ujarnya.
Didik juga menitipkan pesan agar semangat manunggal tidak berhenti setelah penyerahan hasil pembangunan. Menurutnya, rembug warga, ronda, dan musyawarah desa harus terus hidup sebagai bagian dari pertahanan sosial masyarakat. “TMMD selesai secara fisik, tetapi semangat kemanunggalan jangan bubar. Bangunan bisa retak, tetapi kalau semangat warga menjaga desa dan NKRI tetap kuat, maka TMMD berhasil sepenuhnya,” pungkasnya.




















