Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah Indonesia terus berupaya memperkuat langkah-langkah strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan ekonomi global. Langkah-langkah ini meliputi penguatan koordinasi antar Kementerian/Lembaga, percepatan implementasi program prioritas, serta penciptaan iklim investasi yang lebih kondusif dan responsif terhadap kebutuhan dunia usaha.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa meskipun ekonomi global pada tahun 2026 menghadapi tantangan signifikan, Indonesia tetap menunjukkan ketahanan dan berada pada posisi yang baik untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Hal ini didukung oleh fundamental domestik yang solid. Pernyataan ini disampaikan dalam sambutan pembuka pada International Seminar on Debottlenecking Channel di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Seminar tersebut menjadi forum strategis untuk memperkuat sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan dalam menciptakan mekanisme penyelesaian hambatan investasi yang lebih efektif, cepat, dan terkoordinasi. Airlangga menambahkan bahwa probabilitas Indonesia mengalami resesi tetap sangat rendah, yaitu di bawah 5%, lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada. Ini mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia serta kapasitas pertumbuhan yang tetap kuat di tengah ketidakpastian global.
Menko Airlangga menjelaskan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia terlihat pada triwulan I tahun 2026, di mana ekonomi tumbuh sebesar 5,61%, dengan inflasi terjaga pada level 2,42% dan tingkat keyakinan konsumen yang tetap kuat. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia terus mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut, didukung oleh stabilitas sektor keuangan dan cadangan devisa yang solid.
Untuk memperkuat akselerasi pertumbuhan ekonomi, Presiden RI Prabowo Subianto telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi (Satgas P3-MPPE). Satgas ini dibentuk untuk memperkuat sinergi lintas Kementerian/Lembaga, menyederhanakan proses, serta mempercepat penyelesaian berbagai hambatan implementasi program strategis nasional.
Airlangga menyebutkan bahwa debottlenecking channel memiliki tiga fungsi utama: menangkap dan mengelola hambatan secara real time, menyediakan kanal yang kredibel bagi investor untuk menyampaikan kendala secara langsung, serta menerjemahkan masukan tersebut menjadi rekomendasi kebijakan yang dapat segera ditindaklanjuti.
Melalui penguatan mekanisme debottlenecking ini, pemerintah berupaya menyederhanakan proses dan memperbaiki iklim usaha, serta membangun kepercayaan investor bahwa Indonesia adalah destinasi investasi yang aman, dapat diprediksi, dan minim hambatan. Pemerintah optimistis bahwa di tengah ketidakpastian global, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan dunia. Namun, hal ini memerlukan langkah cepat, koordinasi solid, dan implementasi kebijakan konsisten agar potensi ekonomi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan bersama.
“Mari kita ubah hambatan-hambatan ini menjadi saluran yang terbuka lebar untuk kemakmuran bersama. Saya berharap seminar ini dapat menghasilkan diskusi yang produktif dan memberikan berbagai masukan yang konstruktif,” tutup Menko Airlangga.






















