Headline.co.id, Jakarta ~ Indonesia tidak dibangun dari kejauhan, melainkan dari kehadiran nyata di tengah masyarakat yang membutuhkan. Melalui program Tim Ekspedisi Patriot (TEP), Kementerian Transmigrasi (Kemtrans) menegaskan pentingnya keberanian untuk terjun langsung ke lapangan sebagai bagian dari transformasi transmigrasi. Program ini bertujuan untuk menjawab kesenjangan yang masih ada di berbagai wilayah, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur.
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, menekankan bahwa pembangunan nasional harus menjangkau seluruh pelosok negeri sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. “Indonesia terlalu besar untuk hanya didiskusikan dari ruang kelas dan ruang ekspresi. Di banyak tempat, tanahnya subur, lautnya kaya, masa depannya besar. Tetapi, kemiskinan masih tinggal di sana. Bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar wacana. Bangsa ini membutuhkan kehadiran,” ujar Menteri Iftitah dalam keterangannya yang diterima , Selasa (5/5/2026).
Pada tahun 2026, sebanyak 1.458 Tim Ekspedisi Patriot akan diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia. Peserta program ini akan melakukan riset, kajian, serta pendampingan masyarakat secara langsung. Program ini dinilai mampu memperkuat kehadiran negara sekaligus menjawab kebutuhan riil masyarakat, sebagaimana telah dirasakan pada pelaksanaan TEP tahun 2025.
TEP dibagi menjadi dua masa pengabdian, yaitu empat bulan untuk TEP Non Papua, dan satu tahun untuk TEP yang mengabdi di Papua. Para peserta yang merupakan lulusan D4/S1 akan terjun langsung ke masyarakat untuk mendampingi petani dan nelayan, membantu proses pendidikan di sekolah, mendukung layanan kesehatan, hingga berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur dasar dan penguatan ekonomi lokal di kawasan transmigrasi. “Transmigrasi Patriot adalah panggilan. Satu tahun pengabdian untuk turun langsung ke lapangan, menghadirkan harapan baru, membuka peluang kerja, dan membangun ekonomi masyarakat. Karena Indonesia tidak dibangun oleh para penonton, tetapi oleh mereka yang memilih hadir bersama rakyatnya di garis depan pembangunan,” tegas Mentrans.
Program ini juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, IPB University, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin. Mentrans menyebut program ini juga terbuka bagi lulusan sarjana di luar 10 kampus yang telah berkolaborasi dengan Kementerian Transmigrasi. “Jika bukan sarjana dari 10 universitas tadi, masih dimungkinkan untuk mendaftar. Ada kolom kesebelasnya, itu adalah kolom perguruan tinggi lainnya, kampus swasta, kampus di manapun di seluruh Indonesia, boleh berpartisipasi dalam program ini,” tegasnya.
Seluruh pendaftar akan melewati tahapan seleksi yang hasilnya akan diumumkan pada Juni 2026. Kemudian Juli akan dilaksanakan pembekalan dan kemudian berangkat menuju daerah penugasan masing-masing di 53 kawasan transmigrasi. Menteri Iftitah menekankan pengabdian dalam Transmigrasi Patriot bukan tentang kehebatan individu, melainkan tentang komitmen dan keberanian untuk bertahan dan memberi makna. “Transmigrasi bukan tentang siapa yang paling hebat. Ini tentang siapa yang tetap tinggal ketika yang lain memilih pergi. Siapa yang bekerja ketika yang lain hanya berbicara. Siapa yang menjawab ketika bangsanya memanggil,” tegasnya.
Kementerian Transmigrasi mengajak seluruh anak muda Indonesia untuk mengambil bagian dalam gerakan ini. Sebab, Indonesia tidak menunggu kesempurnaan, melainkan kepedulian, kehadiran, dan tindakan nyata. “Indonesia tidak menunggu kita sempurna. Indonesia menunggu kita peduli. Indonesia menunggu kita hadir. Indonesia menunggu kita berbuat. Indonesia memanggil,” pungkas Menteri Iftitah.
Melalui Tim Ekspedisi Patriot, Kementerian Transmigrasi berharap lahir generasi baru pelopor pembangunan yang tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan bangsa.



















