Headline.co.id, Jakarta ~ Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau agar pelaksanaan imunisasi dilakukan lebih masif dan merata untuk mencegah potensi peningkatan kasus campak di masa mendatang. Hal ini disampaikan oleh Ketua Satuan Tugas Imunisasi IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K), dalam acara Temu Jurnalis Pekan Imunisasi Sedunia yang berlangsung di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Prof. Hartono Gunardi mengungkapkan bahwa tren peningkatan kasus campak di Indonesia menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2024, Indonesia telah masuk dalam daftar 10 besar negara dengan kasus campak terbanyak di dunia. “Komplikasi lain yang tidak kalah berbahaya adalah radang otak (ensefalitis), yang dapat menyebabkan kejang, penurunan kesadaran, hingga kecacatan permanen seperti kelumpuhan dan gangguan kognitif,” jelas Hartono.
Selain cakupan imunisasi yang masih rendah, perubahan iklim juga memperburuk ancaman penyebaran penyakit menular. Peningkatan suhu global memungkinkan virus dan bakteri berkembang lebih cepat dan meluas. Fenomena ini juga terlihat pada penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) yang kini meluas ke wilayah subtropis akibat perubahan suhu. Mobilitas manusia antarnegara yang tinggi semakin mempercepat penyebaran penyakit lintas wilayah.
Untuk mengurangi risiko Kejadian Luar Biasa (KLB), pemerintah bersama tenaga kesehatan terus mendorong pemberian imunisasi dasar lengkap. Upaya ini penting untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) di masyarakat. Prof. Hartono menegaskan bahwa anak yang tidak mendapatkan imunisasi bukan hanya berisiko bagi dirinya sendiri, tetapi juga dapat menjadi sumber penularan bagi orang lain.
Ia juga mengajak seluruh keluarga untuk berperan aktif dalam memastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal. “Kolaborasi keluarga, baik inti maupun besar, sangat penting untuk mengatasi keraguan terhadap imunisasi,” katanya. Upaya kolektif ini dinilai menjadi kunci dalam mencegah peningkatan kasus Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) seperti campak, polio, difteri, dan tetanus di Indonesia.




















