Headline.co.id, Menjelang Perayaan Lebaran ~ masyarakat sering kali menunjukkan pola konsumsi yang tinggi. Hal ini menyebabkan peningkatan pengeluaran untuk kebutuhan seperti mudik dan pemberian hadiah parsel kepada keluarga. Bahkan, pola pengeluaran yang besar ini sering berlanjut setelah Lebaran. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih memperhatikan pengeluaran meskipun suasana perayaan masih terasa.
Dr. Eddy Junarsin, seorang ekonom dari Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa pola konsumsi yang tinggi ini dipengaruhi oleh euforia Lebaran. Menurutnya, setelah Lebaran, orang cenderung melanjutkan kebiasaan belanja dalam suasana kegembiraan. “Sehingga pengeluaran secara tidak tersadari mungkin akan di atas normal,” ujarnya pada Selasa (7/4).
Untuk mencegah pemborosan, setiap individu perlu memiliki kesadaran bahwa masa perayaan telah berakhir. Pengelolaan keuangan harus kembali dilakukan secara tertib dan strategis. Eddy menyebutkan bahwa riset menunjukkan rasio ideal tabungan atau investasi adalah 10–20 persen dari pendapatan bersih. Sementara itu, rasio cicilan utang, kecuali cicilan KPR, sebaiknya tidak melebihi 35 persen dari pendapatan. “Debt service ratio adalah rasio pembayaran cicilan terhadap take-home pay,” jelasnya.
Eddy juga mendorong masyarakat, terutama mahasiswa, untuk mulai belajar dan mempraktikkan investasi sejak dini. Ini bisa dilakukan melalui kelas manajemen keuangan dan teori portofolio, serta memanfaatkan platform investasi yang tersedia. Analisis investasi dapat dilakukan dengan pendekatan fundamental maupun teknikal.
Selain itu, Eddy menekankan pentingnya asuransi sebagai instrumen perlindungan finansial. Asuransi kesehatan, kendaraan, dan jenis lainnya berfungsi sebagai mekanisme manajemen risiko melalui risk sharing. “Jika ada peristiwa risiko, seseorang ditanggung hingga persentase tertentu, misalnya sampai 80 persen. Jadi, ini merupakan suatu praktik yang lumrah dan penting,” ungkapnya.
Eddy juga mengingatkan tentang kondisi global yang penuh ketidakpastian atau sering disebut VUCA (volatile, uncertain, complex, ambiguous). Masyarakat perlu lebih bijak dan strategis dalam mengelola keuangan, baik secara pribadi maupun dalam usaha. Ia menekankan pentingnya menjaga agar pengeluaran tidak melebihi pendapatan, kecuali untuk kebutuhan investasi.
Selain itu, ia menyarankan agar pola investasi saat ini tidak harus berorientasi terlalu jangka panjang karena perubahan iklim dan instrumen investasi yang sangat cepat. Eddy menyarankan fokus pada kebutuhan yang bersifat vital dan taktis. “Pupuk persatuan di dalam komunitas, kurangi perdebatan atau konflik yang tidak konstruktif,” pesannya.






















