Headline.co.id, Jogja ~ Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali meraih prestasi dalam pemeringkatan QS World University Ranking (WUR) by Subject 2026. Dua bidang ilmu di bawah Fisipol, yaitu studi pembangunan dan ilmu politik, berhasil masuk dalam jajaran 100 dan 200 besar dunia. Studi pembangunan mencatatkan peningkatan signifikan dengan masuk dalam peringkat 50-100 besar dunia, sementara ilmu politik dan studi internasional tetap konsisten di peringkat 150-200 besar dunia.
Dalam bidang studi pembangunan, UGM menempati peringkat pertama di Indonesia, diikuti oleh Universitas Indonesia (UI) yang berada di peringkat kedua dan 101-150 dunia. Sementara itu, dalam bidang ilmu politik dan studi internasional, UGM juga menempati posisi pertama di Indonesia, diikuti oleh UI, Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Hasanuddin.
Prof. Poppy Sulistyaning Winanti, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fisipol UGM, menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi interdisipliner. “Pembagian QS by Subject tidak secara kaku sejalan dengan pembagian prodi di UGM. Sebagai contoh, development studies diisi oleh berbagai prodi dengan konsentrasi serupa. Ini bukti bahwa pendekatan interdisipliner dan multidisipliner di UGM relatif berhasil,” ujarnya pada Selasa (7/4).
Poppy menekankan pentingnya kerangka berpikir kolaborasi untuk memperkuat kontribusi dan reputasi akademik di tingkat global. Ia menjelaskan bahwa Fisipol aktif berkontribusi dalam Global Humanities Alliance (GHA), yang melibatkan delapan universitas dari berbagai negara. “Kami mengembangkan berbagai macam kerja sama, mulai dari menyelenggarakan seminar, bidding research grant, dan lain sebagainya,” terangnya.
Melalui aliansi GHA, Fisipol turut mengembangkan riset yang selaras dengan topik utama penelitian fakultas. Beberapa isu strategis yang menjadi fokus kajian bersama mitra internasional tersebut meliputi keberlanjutan, respons terhadap perubahan iklim, demokrasi, humaniora publik, hingga dekolonisasi pengetahuan.
Untuk memperkuat ekosistem akademik internal, Fisipol rutin mengundang pakar terkemuka dunia sebagai dosen tamu. Langkah ini bertujuan memperluas jaringan riset dan memperkenalkan keunggulan akademik fakultas. “Kehadiran pada visiting fellows ini menjadi instrumen penting bagi kami membangun reputasi akademik. Selain itu, kami juga terus mengembangkan berbagai program joint courses dengan mengundang pakar sebagai dosen tamu,” jelasnya.
Poppy mengakui tantangan terbesar adalah peningkatan H-index dan produktivitas publikasi internasional. Untuk mengatasinya, fakultas telah menjalankan skema hibah riset kompetitif selama lebih dari 10 tahun yang mewajibkan kolaborasi dengan peneliti atau dosen asing yang bereputasi. “Hasil dari riset kolaboratif itu nantinya akan meningkatkan H-indeks dosen-dosen Fisipol UGM,” tambahnya.
Fisipol UGM juga mempercepat transformasi digital, terutama dalam menghadirkan pakar internasional ke ruang kelas. Prof. Poppy menjelaskan bahwa sejak pandemi, Fisipol telah mengembangkan Learning Management System (LMS) mandiri bernama Focus. “Ketika dosen asing mengisi kelas, kita kelola juga secara online. Pemaparan tersebut kami digitalisasikan melalui Focus untuk kebutuhan perkuliahan yang tidak hanya saat itu, tetapi juga jangka panjang,” pungkasnya.
Meski terus memacu reputasi internasional, Fisipol UGM menegaskan bahwa pencapaian tersebut tidak boleh membuat universitas melupakan fungsi dasarnya. Poppy menekankan bahwa upaya meningkatkan peringkat global dan kontribusi nyata kepada masyarakat harus berjalan secara paralel. “Reputasi global itu penting. Akan tetapi, bukan berarti kita melupakan fungsi perguruan tinggi untuk membantu menyelesaikan persoalan konkret yang dihadapi masyarakat. Semua harus saling menopang sesuai dengan nilai tridharma,” pungkasnya.





















