Headline.co.id, Jogja ~ Tuberkulosis (TBC) tetap menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, jumlah kasus TBC diperkirakan mencapai 1.060.000 kasus setiap tahun. Indonesia menempati posisi kedua setelah India dalam jumlah kasus TBC terbanyak di dunia. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, tingginya angka kasus yang belum terdeteksi menunjukkan perlunya penanganan yang lebih luas, tidak hanya secara medis tetapi juga melalui pendekatan sosial, edukatif, dan struktural.
Dr. Rina Triasih, M.Med(Paed), Ph.D., Sp.A(K), dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), menyoroti kesenjangan estimasi jumlah kasus TBC dan kasus yang berhasil ditemukan di Indonesia. Ia menyatakan bahwa hal ini menunjukkan bahwa upaya deteksi kasus belum optimal, sehingga banyak pasien yang belum terjangkau oleh sistem layanan kesehatan dan berpotensi menularkan penyakit.
Menurut Dr. Rina, estimasi kasus TBC di Indonesia mencapai sekitar satu juta kasus, namun baru beberapa ratus ribu kasus yang teridentifikasi secara medis. “Prediksinya mencapai 1 juta, tetapi yang sudah fiks diprediksi oleh dokter-dokter hanya mencapai beberapa ratus ribu,” jelasnya pada Senin (6/4). Ia menekankan bahwa selisih angka ini bukan hanya masalah data, tetapi juga menunjukkan hambatan nyata di lapangan, seperti rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sejak gejala awal muncul, keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan, dan kurangnya literasi masyarakat dalam mengenali tanda-tanda TBC.
Lebih lanjut, Dr. Rina menjelaskan bahwa pasien yang belum terdiagnosis berpotensi besar menjadi sumber penularan baru. Hal ini menyebabkan jumlah kasus terus meningkat, terutama setelah pandemi COVID-19. “Waktu COVID, jumlah kasus TBC yang ditemukan itu tidak banyak, tetapi pasca COVID itu justru meningkat,” ujarnya.
Sebagai bagian dari Pusat Kedokteran Tropis UGM, Dr. Rina terlibat dalam pengembangan strategi Active Case Finding (ACF), yaitu metode penemuan kasus secara aktif di masyarakat. Program ini, yang diinisiasi oleh Zero TB Yogyakarta sejak 2020 di bawah naungan UGM, dilakukan dengan mendatangi masyarakat menggunakan fasilitas X-Ray keliling untuk mendeteksi TBC, baik pada individu bergejala maupun tidak. “Kita menjemput pasiennya dan bukan menunggu pasiennya ke rumah sakit atau puskesmas,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa metode ini terbukti efektif dalam menemukan kasus-kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi. Program ini juga mulai mendapat dukungan dari pemerintah melalui penyediaan alat dan fasilitas yang lebih memadai.
Di sisi lain, tantangan besar muncul dari kasus TBC resisten obat. Dr. Rina menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi akibat pengobatan yang tidak tuntas, sehingga kuman mengalami mutasi. “Biasanya memang dua bulan itu sudah terlihat dan sudah merasa baikan. Nah, mungkin karena mereka sudah merasa sehat, mereka tidak melanjutkan pengobatan dan itu merupakan risiko untuk menjadi TBC resisten obat,” paparnya.
Ia menegaskan bahwa penanggulangan TBC tidak bisa hanya berfokus pada aspek medis. Faktor sosial seperti stigma, tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, dan lingkungan tempat tinggal turut berperan besar dalam penyebaran penyakit ini. “Misalnya pasien TBC pulang ke rumah dengan kondisi rumah yang kumuh dan sempit, otomatis orang-orang di dalamnya akan terkena juga dan kasus TBC tidak sembuh-sembuh,” jelasnya.
Untuk itu, Dr. Rina menekankan pentingnya pendekatan edukasi yang inovatif dan menyentuh langsung masyarakat. Ia menyarankan agar edukasi tidak hanya dilakukan melalui media konvensional seperti poster atau flyer, tetapi juga melalui pendekatan yang lebih interaktif, seperti menghadirkan penyintas TBC dalam talkshow atau kampanye berulang yang mudah diingat masyarakat.
Selain itu, Dr. Rina juga menggarisbawahi tantangan geografis Indonesia yang menyebabkan ketimpangan akses layanan kesehatan, terutama di luar Pulau Jawa. Kondisi ini menjadi hambatan dalam pemerataan deteksi dan pengobatan TBC di seluruh wilayah.
Sebagai langkah strategis, Dr. Rina merekomendasikan pendekatan komprehensif melalui tiga pilar utama, yakni Search, Treat, and Prevent. “Search mencari pasiennya dan mendeteksi mereka dengan cepat. Treat memberikan pengobatan yang adekuat sampai sembuh total. Prevent melakukan tindakan pencegahan dan edukasi,” pungkasnya.
Ia optimistis bahwa dengan kolaborasi berbagai pihak dan pelaksanaan strategi ini secara masif, target eliminasi TBC pada tahun 2030 dapat tercapai.


















