Headline.co.id, Jogja ~ Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan prestasi gemilang dalam pemeringkatan QS World University Ranking (WUR) by Subject 2026. Bidang ilmu pertanian dan kehutanan UGM berhasil mempertahankan posisinya di kelompok peringkat 151-200 dunia selama tiga tahun berturut-turut. Pada tahun 2023, UGM berada di peringkat 212 dunia dalam subjek ini, namun sejak tahun 2024 hingga 2026, UGM berhasil naik ke peringkat 171 dari 476 universitas di seluruh dunia. Secara regional, UGM menempati peringkat 35 di Asia, peringkat 6 di ASEAN, dan peringkat 2 di Indonesia.
Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian ini. “Kami segenap civitas akademika Fakultas Pertanian UGM sangat bersyukur dan menyambut gembira hasil pemeringkatan ini yang menempatkan kami di posisi 151-200 dunia,” ujarnya pada Kamis (2/4). Menurut Jaka, keberhasilan ini adalah hasil dari dedikasi, sinergi, dan kerja keras seluruh dosen, peneliti, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta dukungan para alumni.
Dekan Fakultas Kehutanan, Ir. Sigit Sunarta, S.Hut., M.P., M.Sc., Ph.D., IPU., melalui Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Ir. Dwiko Budi Permadi, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPU., juga menyampaikan rasa syukur atas prestasi ini. “Peningkatan ini menunjukkan penguatan posisi UGM dalam lanskap akademik global, khususnya pada klaster agro dan kehutanan,” ungkapnya.
Berdasarkan informasi dari QS World University Rankings (WUR), sejak tahun 2023 hingga 2026, terdapat peningkatan pada indikator penilaian citations per paper dan international research paper. Pada tahun 2026, UGM memperoleh skor 67,5 untuk citations per paper, naik satu persen dari 66,5 pada tahun 2023. Kenaikan signifikan juga terlihat pada indikator international research paper, dari skor 25,7 pada tahun 2023 menjadi 40,5 pada tahun 2026.
Jaka Widada menjelaskan bahwa untuk mencapai posisi saat ini, UGM melakukan berbagai upaya, termasuk peningkatan kualitas dan kuantitas publikasi internasional. “Kami secara masif mendorong dan memfasilitasi para dosen serta peneliti untuk mempublikasikan hasil risetnya di jurnal-jurnal internasional bereputasi tinggi,” ungkapnya. Fakultas juga menyediakan skema research grant, klinik penulisan jurnal, serta insentif publikasi untuk meningkatkan sitasi riset oleh ilmuwan global.
Selain itu, penguatan jejaring akademik dan riset internasional yang berfokus pada academic reputation dan international research network juga menjadi perhatian. “Kami gencar memperluas kolaborasi dengan universitas dan lembaga riset top dunia,” tambahnya. Hal ini diwujudkan melalui program pertukaran dosen dan mahasiswa, mengundang visiting professor dari luar negeri, penyelenggaraan konferensi internasional, serta joint research.
Jaka menambahkan bahwa pembaruan fokus riset pada isu strategis global dan peningkatan kualitas lulusan serta sinergi dengan industri perlu dilakukan. “Kami mengarahkan payung penelitian fakultas pada isu-isu krusial yang sedang menjadi sorotan dunia, seperti ketahanan pangan global, pertanian cerdas beradaptasi iklim, dan inovasi agroteknologi,” ujarnya. Riset yang relevan dengan tantangan masa depan membuat kiprah fakultas lebih diakui secara internasional dan terkait SDGs.
Sementara itu, Dwiko menjelaskan bahwa untuk menghadapi tantangan ke depan, diperlukan penyusunan roadmap strategis tingkat klaster, khususnya pertanian, kehutanan, peternakan, dan teknologi pangan. “Untuk menembus peringkat 100 besar, UGM perlu terlebih dahulu masuk ke rentang 101-150 dunia dengan mengungguli kompetitor utama di kawasan. Dengan tren peningkatan yang konsisten serta strategi yang terarah, UGM dapat terus memperbaiki posisi di tingkat global,” jelasnya.






















