Headline.co.id, Surabaya ~ Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Timur telah menyiagakan Satuan Tugas (Satgas) selama 24 jam untuk memantau kondisi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya eskalasi konflik di wilayah tersebut dan untuk mengantisipasi lonjakan kepulangan PMI menjelang Idulfitri.
Kepala BP3MI Jawa Timur, Gimbar Ombai Helawarnana, pada Kamis (19/3/2026), menyatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk menyiapkan skema evakuasi jika diperlukan. BP3MI juga sedang menelusuri laporan dari warga Situbondo mengenai lima PMI di Timur Tengah untuk memastikan kondisi keamanan serta prosedur penempatan mereka.
“Personel kami disiagakan di bandara untuk pendataan sekaligus mengantisipasi kemungkinan evakuasi. Fasilitas seperti tim medis, ambulans, hingga ruang tunggu khusus juga telah disiapkan di Bandara Juanda bagi PMI yang tiba,” ujarnya.
Selain fokus pada situasi di Timur Tengah, BP3MI memprediksi peningkatan jumlah PMI yang pulang ke tanah air. Pada periode H-5 hingga H+5 Lebaran, diperkirakan terdapat 100 hingga 120 PMI yang tiba setiap hari.
Gimbar mengimbau PMI yang pulang cuti agar tetap melapor dan memastikan dokumen, termasuk asuransi, dalam kondisi aktif guna menghindari kendala saat kembali bekerja ke luar negeri. Berdasarkan data, sekitar 7.000 PMI asal Jawa Timur bekerja di kawasan Timur Tengah, dengan mayoritas berada di Arab Saudi.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi memperkuat layanan perlindungan dengan membuka Posko Pelayanan Kepulangan PMI di Terminal 2 Bandara Internasional Juanda.
Kepala UPT Pelayanan dan Perlindungan Tenaga Kerja (P2TK) Jawa Timur, Astrid, menjelaskan bahwa posko tersebut menyediakan layanan pendampingan selama 24 jam, mulai dari pendataan hingga penanganan PMI yang mengalami masalah atau sakit.
Fasilitas yang disediakan meliputi takjil gratis, layanan telepon darurat, serta tempat transit bagi PMI yang tiba pada malam hari atau belum dijemput keluarga. Selain itu, tersedia rujukan medis cepat bagi pekerja yang membutuhkan penanganan lanjutan.
“Momentum Lebaran memiliki intensitas kepulangan yang tinggi. Kami memastikan setiap PMI yang kembali ke Jawa Timur mendapatkan perlindungan menyeluruh,” ujar Astrid.
Pada arus mudik tahun sebelumnya, posko ini melayani ribuan PMI, dengan mayoritas kepulangan berasal dari Hong Kong, Malaysia, dan Singapura. Secara keseluruhan, puluhan ribu PMI tercatat tiba di Bandara Juanda sepanjang tahun.
Melalui langkah ini, pemerintah berharap PMI yang kembali ke tanah air dapat merasakan perlindungan negara serta memperoleh jaminan keamanan dan kenyamanan selama proses kepulangan hingga tiba di daerah asal. (Mc.Jatim/Eyv)





















