Headline.co.id, Surabaya ~ Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berkomitmen untuk meningkatkan perlindungan lahan sawah sebagai bagian dari Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) hingga mencapai 87 persen. Hal ini disampaikan oleh Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, dalam Rapat Koordinasi evaluasi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) yang berlangsung di Pendopo Malowopati Bojonegoro pada Senin (16/03/2026). Langkah ini diambil sebagai respons terhadap fluktuasi harga BBM dunia yang diprediksi akan memicu kenaikan harga barang dan menurunkan daya beli masyarakat.
Saat ini, luas sawah yang terlindungi di Bojonegoro baru mencapai 43.000 hektare, sementara target dari pemerintah pusat adalah 93.000 hektare. “Ketahanan pangan menjadi satu-satunya solusi untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah,” ujar Nurul Azizah. Untuk mendukung akurasi data, Pemkab Bojonegoro mengerahkan 235 Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) untuk melakukan geotagging terhadap sekitar 270.000 petani di seluruh wilayah Bojonegoro.
Meskipun secara administratif status PPL kini berada di bawah pemerintah pusat, Nurul Azizah menekankan agar para penyuluh tetap bekerja sepenuh hati untuk masyarakat Bojonegoro. “Kami berharap para penyuluh dapat bekerja dengan sepenuh hati demi kesejahteraan petani di Bojonegoro,” tambahnya. Kepala DKPP Bojonegoro, Zaenal Fanani, menambahkan bahwa tantangan ke depan cukup berat, terutama menghadapi puncak musim kemarau pada bulan Juni mendatang.
Zaenal Fanani meminta PPL untuk aktif mengedukasi petani agar memilih komoditas tanam yang sesuai dengan ketersediaan air guna menghindari kerugian akibat kekeringan. Selain perlindungan lahan, Pemkab juga menjajaki efisiensi biaya produksi pertanian melalui program elektrifikasi. Penggunaan mesin pompa air bertenaga listrik dinilai lebih hemat dibandingkan mesin diesel yang bergantung pada BBM.
Melalui sinergi perlindungan lahan yang masif, akurasi data geotagging, dan efisiensi biaya produksi, Kabupaten Bojonegoro optimistis dapat mempertahankan posisinya sebagai lumbung pangan yang tangguh di tengah ketidakpastian global. (MC Prov Jatim /yan-hjr/eyv)





















