Headline.co.id, Jakarta ~ Penyakit campak masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat karena tingkat penularannya yang sangat tinggi dan dapat menyerang siapa saja, tidak hanya anak-anak. Kepala Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis Departemen Ilmu Kesehatan Anak Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT(K), menjelaskan bahwa campak merupakan penyakit akibat virus yang sangat menular dan dapat menyebar cepat jika cakupan imunisasi tidak optimal.
Prof. Anggraini menjelaskan bahwa campak disebabkan oleh virus RNA yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan virus lain seperti influenza atau COVID-19 yang relatif cepat bermutasi. Virus campak cenderung stabil sehingga hanya memiliki satu serotipe utama. Kondisi ini membuat vaksin campak yang dikembangkan sejak 1954 tetap efektif hingga saat ini. “Campak merupakan penyakit yang disebabkan virus dan sangat menular. Penyakit ini tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi dapat menyerang semua orang yang tidak memiliki kekebalan,” ujar Anggraini yang juga Ketua Tim Pengendalian Resistensi Antimikroba di RSUP Hasan Sadikin Bandung, dalam seminar daring Ancaman KLB Campak 2026: Respon Klinis Multidisiplin dan Ketahanan Sistem Kesehatan, Rabu (11/3/2026).
Anggraini menegaskan bahwa tingkat penularan campak termasuk yang tertinggi di penyakit infeksi lainnya. Satu orang penderita dapat menularkan virus kepada banyak orang, terutama di lingkungan dengan cakupan imunisasi rendah. “Campak dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius sehingga pencegahan menjadi sangat penting,” katanya.
Untuk mencegah penyebaran campak, Anggraini menekankan pentingnya imunisasi lengkap sesuai jadwal nasional. Vaksin campak telah terbukti aman dan efektif melindungi anak dari penyakit tersebut. Di Indonesia, imunisasi campak diberikan pertama kali pada usia 9 bulan, dilanjutkan pada usia 18 bulan, serta penguat pada usia sekolah dasar. Dua dosis vaksin dapat memberikan perlindungan lebih dari 97 persen terhadap infeksi campak.
Ia mengingatkan bahwa cakupan imunisasi harus mencapai minimal 95 persen agar tercipta kekebalan kelompok atau herd immunity dan mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB).





















