Headline.co.id, Jakarta ~ Bulan Ramadan yang seharusnya menjadi waktu untuk menanamkan nilai kesederhanaan, justru seringkali diwarnai dengan peningkatan penggunaan air di rumah tangga. Fenomena ini menjadi perhatian PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI), yang berfokus pada pengelolaan lingkungan dan daur ulang limbah.
Muhamad Yusuf Firdaus, Manajer Laboratorium PT Prasadha Pamunah Limbah Industri, menyoroti kebiasaan masyarakat yang masih menggunakan detergen dengan busa berlimpah. Menurutnya, busa yang menumpuk di aliran sungai dapat menghalangi masuknya sinar matahari dan oksigen ke dalam air. “Penggunaan detergen yang berlebihan ini perlu dikurangi,” ujar Yusuf dalam acara Ngobrol Peduli Lingkungan bersama Aliansi Jurnalis Peduli Lingkungan di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Yusuf juga menyoroti perilaku sebagian umat saat bersuci. “Kita sering kali menggunakan air lebih dari yang diperlukan saat berwudhu,” tambahnya.
Sejalan dengan itu, Irfan Maulana, Supervisor Environmental Database and Program PPLI, memaparkan data yang cukup mengejutkan. “Rata-rata penggunaan air tiap wudhu per orang mencapai 2,9 hingga 5 liter. Padahal secara sunnah, wudhu hanya membutuhkan 0,5 hingga 0,7 liter air, atau setara dengan satu botol air minum kemasan,” ucapnya.
Prinsip penghematan ini, lanjut Irfan, selalu dikedepankan PPLI. “Di industri, kami terus mengampanyekan efisiensi ini,” ujarnya. Sebagai wujud komitmen nyata, semangat yang sama juga diusung PPLI dalam operasional bisnisnya. Sejak tahun 2025, PPLI yang tergabung dalam jaringan Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI), telah mengelola kurang lebih 225 ribu meter kubik limbah yang berasal dari pelanggannya.
Pengolahan limbah dilakukan dengan tiga metode, yaitu secara kimiawi dan fisika atau physical chemical treatment. Kemudian evaporator, yakni pemekatan air untuk mengurangi total dissolved solids yang terkandung di air limbah, dan dengan teknik biologis menggunakan bakteri aktif untuk mengurangi kadar tercemar. “Air hasil pengelolaan limbah itu, sebagian digunakan lagi untuk proses di PPLI. Misalnya untuk cuci kendaraan pengangkut atau pencucian kemasan. Kurang lebih selama 3 tahun ke belakang saja PPLI sudah bisa memanfaatkan sekitar 99 ribu meter kubik air yang seharusnya dibuang,” sebut Irfan.
Pada kesempatan itu, Direktur Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Al-Azhar, Iwan Rahman, menambahkan bahwa persoalan boros air di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor kultur dan ketersediaan sumber daya yang melimpah. Ia membandingkan perilaku jamaah saat umrah yang bisa berhemat air, tetapi kembali boros ketika di tanah air. “Sebagai negara yang air tanahnya melimpah, kita tidak pernah merasakan panasnya gurun. Sehingga mengkonsumsi air dalam jumlah besar seolah hal biasa,” sesal Iwan.
“Desain kran di masjid-masjid kita juga mayoritas mengeluarkan debit air yang terlalu besar,” tambahnya. “Lingkungan ini bukan cuma milik kita, tapi titipan untuk anak cucu kita,” pungkas Yusuf.





















