Headline.co.id, Banda Aceh ~ Langit Aceh pada Selasa (3/3/2026) atau bertepatan dengan 14 Ramadan 1447 Hijriah, dihiasi oleh fenomena langka gerhana bulan total yang juga dikenal sebagai Blood Moon. Fenomena ini dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Aceh, setelah waktu Magrib hingga sesaat setelah Isya, dengan puncaknya bulan tampak berwarna kemerahan.
Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, Alfirdaus Putra, menjelaskan bahwa gerhana bulan total ini sebenarnya dimulai sebelum matahari terbenam. Namun, di Aceh, fenomena ini baru dapat diamati setelah bulan terbit di horizon timur. “Gerhana bulan total merupakan peristiwa alam yang terjadi saat bulan melewati bayangan inti (umbra) bumi secara penuh atau bumi berada di matahari dan bulan. Selama fenomena ini berlangsung, bulan tampak meredup bahkan berubah warna menjadi merah tembaga, sehingga disebut blood moon,” ujar Alfirdaus.
Secara astronomis, gerhana dimulai dengan fase penumbra pada pukul 15.44 WIB, diikuti oleh gerhana sebagian pada pukul 16.50 WIB. Gerhana bulan total mulai terjadi pada pukul 18.04 WIB dan berlangsung selama 58 menit hingga pukul 19.02 WIB. Setelah itu, gerhana kembali memasuki fase sebagian mulai pukul 19.02 WIB dan berakhir pada pukul 20.17 WIB.
Menurut Alfirdaus, masyarakat Aceh hanya dapat menyaksikan gerhana total setelah matahari terbenam, yakni ketika bulan purnama yang sudah berwarna kemerahan mulai terbit di ufuk timur hingga pukul 19.02 WIB. “Setelah gerhana total, masyarakat juga dapat menyaksikan gerhana sebagian hingga pukul 20.17 WIB,” lanjutnya. Ia menyarankan masyarakat memilih lokasi dengan pandangan luas ke arah timur saat bulan mulai terbit. Bulan akan muncul seperti purnama biasa, namun dalam kondisi berwarna merah, kemudian secara perlahan piringannya akan kembali terang hingga putih sempurna pada pukul 20.17 WIB sebagai tanda gerhana berakhir.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, Azhari, mengimbau masyarakat agar tidak mengaitkan fenomena gerhana dengan musibah atau pertanda buruk, meskipun terjadi di pertengahan Ramadan. “Gerhana bulan jangan dikaitkan dengan kematian, musibah, atau hal-hal buruk lainnya, karena gerhana merupakan fenomena alam yang menegaskan keagungan dan kebesaran Allah,” ujarnya. Ia menambahkan, gerhana bulan yang terjadi pada fase maghfirah Ramadan ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah. Masyarakat dianjurkan melaksanakan salat sunah khusuf sejak awal Magrib hingga berakhirnya gerhana sebagian pada pukul 20.17 WIB.
Pengamatan terpusat akan dilakukan oleh Observatorium Pengamatan Astronomi Tgk Chiek Kuta Karang di Kompleks Pesantren Al Manar Cot Irie Aceh Besar, dengan menggunakan beberapa unit teleskop astronomi. Kegiatan tersebut juga akan dirangkai dengan pelaksanaan salat khusuf di masjid kompleks pesantren. Fenomena gerhana bulan total ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan ilmiah, tetapi juga sarana edukasi dan refleksi spiritual bagi masyarakat Aceh di bulan suci Ramadan.




















