Headline.co.id, Partisipasi Generasi Muda Dalam Aksi Protes Terkait Kondisi Bangsa Semakin Meningkat ~ terutama di kalangan Generasi Z. Mereka kerap melontarkan kritik tajam terhadap isu sosial ekonomi, ketidaksetaraan, korupsi, dan nepotisme. Salah satu contohnya adalah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto, yang mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena dianggap melanggar konstitusi dengan mengorbankan anggaran pendidikan lebih dari Rp 200 triliun.
Dr. Wenty Marina Minza, M.A., dosen Fakultas Psikologi UGM, menyatakan bahwa peningkatan sikap kritis di kalangan anak muda adalah hal yang wajar. Menurutnya, perubahan besar dalam masyarakat sering dipelopori oleh generasi muda yang mengalami perkembangan pesat dalam aspek kognitif, moral, dan sosial. “Kondisi ini membuat mereka lebih sensitif terhadap isu di sekitar, sekaligus mulai mempertanyakan otoritas, keadilan, dan etika,” ujarnya pada Kamis (26/2).
Wenty menjelaskan bahwa fenomena ini juga dipengaruhi oleh relasi kuasa. Generasi tua cenderung nyaman dengan status quo, sementara generasi muda merasa tidak nyaman. Proses reproduksi kultural yang menolak nilai-nilai generasi lama menjadi alasan utama perubahan. “Protes yang terjadi adalah bagian dari upaya generasi muda untuk menolak sistem yang dibangun oleh generasi tua,” tambahnya.
Menurut Wenty, banyaknya protes dari kaum muda disebabkan oleh kondisi “krisis” yang mempengaruhi kehidupan mereka, baik secara sosial, ekonomi, kultural, maupun politik. Isu-isu seperti penggunaan anggaran negara yang dipertanyakan dan respon negara yang tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat menjadi perhatian. Selain itu, isu kesempatan mendapatkan penghidupan yang layak juga sangat mempengaruhi generasi muda.
Kemudahan akses informasi melalui media sosial membuat publik semakin sadar akan berbagai isu. Wenty menyebutkan bahwa “protes kolektif” melalui media sosial dapat memicu partisipasi lebih banyak orang. Media sosial memungkinkan generasi muda untuk menyampaikan pendapat dengan lebih aman dibandingkan demonstrasi fisik. “Media sosial memberi lebih banyak kemudahan bagi generasi muda untuk menyampaikan pendapatnya,” jelasnya.
Aktivisme politik di kalangan generasi muda dapat berdampak positif atau negatif tergantung pada adaptasi mereka terhadap proses dan dampaknya. Bagi generasi muda, aktivisme politik bukan hanya tentang protes, tetapi juga sebagai arena belajar, berteman, dan berjejaring. Namun, Wenty mengingatkan bahwa aktivisme politik juga memiliki risiko, termasuk tekanan dari berbagai pihak. “Aktivisme politik memiliki risiko, salah satunya mendapatkan tekanan dari pihak yang diprotes atau sesama pengguna media sosial,” paparnya.
Sebagai penutup, Wenty menjelaskan bahwa kondisi sosial politik yang mengecewakan dapat berdampak pada sisi psikologis. Gejala psikologis seperti perasaan tidak percaya, sedih, tidak berdaya, dan malu bisa muncul. Kekecewaan politik sering kali membuat seseorang menghindari sumber kekecewaannya atau justru menjadi marah dan aktif menolak sumber tersebut. “Kemungkinan ia akan menghindari hal-hal menyangkut politik supaya tidak tambah kecewa, atau malah justru menjadikan seseorang marah dan secara aktif menolak sumber kekecewaannya,” pungkasnya.



















