Headline.co.id, Jogja ~ Abdul Salam, S.H.I., M.A., dosen Ekonomi Syariah Universitas Alma Ata, menyampaikan ceramah menjelang salat tarawih di Masjid Darul Muttaqin Universitas Alma Ata dengan menyoroti enam penyakit hati yang dapat merusak amal ibadah. Tausiyah tersebut disampaikan sebagai pengingat bagi jamaah agar meningkatkan kualitas ibadah selama Ramadan. Ceramah berlangsung di lingkungan kampus Universitas Alma Ata sebelum pelaksanaan salat tarawih dengan fokus pada pentingnya introspeksi diri. Dalam pemaparannya, Abdul Salam menjelaskan sejumlah sikap yang berpotensi mengurangi nilai ibadah sekaligus mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbanyak amal kebaikan.
Dalam ceramahnya, Abdul Salam menjelaskan bahwa penyakit hati pertama yang merusak amal adalah الإشتغال بعيوب الخلق (Al Istighlal bi’uyubil kholqi) atau sibuk mencari aib orang lain. Ia menekankan bahwa perilaku tersebut membuat seseorang lalai terhadap kekurangan diri sendiri. “Semut di seberang kelihatan sedang gajah di pelupuk mata tidak kelihatan,” ujarnya.
Penyakit kedua yang disampaikan adalah قسوة القلوب (Qaswatul qulub) atau hati yang keras. Menurut Abdul Salam, hati yang keras membuat seseorang sulit menerima nasihat dan kebenaran. Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai sikap yang bahkan lebih keras dari batu karang sehingga menghambat perbaikan diri.
Selanjutnya, Abdul Salam menyoroti حب الدنيا (Hubbud-dunya) atau cinta dunia sebagai penyakit hati ketiga. Ia menjelaskan bahwa orientasi hidup yang hanya berfokus pada kenikmatan dunia dapat membuat seseorang melupakan kehidupan akhirat. Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi menurunkan kesungguhan dalam beribadah.
Penyakit keempat adalah قلة الحياء (Qillatul haya’) atau minimnya rasa malu. Abdul Salam menegaskan bahwa hilangnya rasa malu dapat mendorong seseorang melakukan perbuatan tanpa mempertimbangkan dosa. “Apabila seseorang telah kehilangan rasa malu maka akan melakukan apa saja tanpa takut dosa,” katanya.
Selain itu, ia menyebut طول الامل (Thulul amal) atau panjang angan-angan sebagai penyakit kelima yang merusak amal ibadah. Sikap ini membuat seseorang merasa hidupnya masih panjang sehingga menunda taubat. Abdul Salam mengingatkan bahwa penundaan tersebut dapat berdampak pada berkurangnya kualitas ibadah.
Penyakit hati terakhir yang disampaikan adalah ظلم لا ينتهي (Dzhulmun la yantahi) atau kezhaliman yang tidak pernah berhenti. Ia menjelaskan bahwa perbuatan maksiat berpotensi menimbulkan kecanduan apabila tidak segera dihentikan melalui taubat. Abdul Salam menekankan pentingnya kesadaran untuk menghentikan kemaksiatan sebelum menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.
Menutup ceramahnya, Abdul Salam mengajak jamaah memaknai Ramadan sebagai momentum memperbanyak amal kebaikan. Ia mengibaratkan manusia seperti tukang parkir yang menyadari bahwa segala sesuatu hanyalah titipan Allah. “Marilah jadikan Ramadan ini menjadi sarana melipatgandakan amal perbuatan yang berlipat pahala,” ujarnya.
Ceramah tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan ibadah Ramadan di Masjid Darul Muttaqin Universitas Alma Ata yang bertujuan meningkatkan pemahaman keagamaan serta mendorong jamaah memperbaiki kualitas ibadah melalui refleksi diri.





















