Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengambil langkah konkret dalam pemulihan pascabencana di Sumatra Barat melalui program Mahasiswa Berdampak. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan instalasi sanitasi air bersih di Nagari Guguak Malalo, Kabupaten Tanah Datar. Program ini melibatkan mahasiswa dari Universitas Prima Nusantara Bukittinggi yang memasang fasilitas sanitasi di lima titik terdampak, yaitu dua titik di Jorong Duo Koto, dua titik di Jorong Guguak, dan satu titik di Jorong Barang.
Sebelum adanya program ini, masyarakat setempat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat kondisi air yang keruh pascabencana. Kepala Jorong Duo Koto, Jonius, menyatakan bahwa kehadiran mahasiswa sangat membantu masyarakat dalam mengatasi keterbatasan akses air layak konsumsi. “Kehadiran mahasiswa dengan membuat sanitasi air bersih ini sangat membantu masyarakat. Kami berharap program ini berlanjut pada tahun-tahun mendatang,” ujar Jonius dalam keterangan tertulis yang diterima pada Selasa (24/2/2026).
Ketua Tim Dosen Pengusul PKM Mahasiswa Berdampak Universitas Prima Nusantara, Mellia Fransiska, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Tim juga memberikan pelatihan manajemen sanitasi air bersih untuk membentuk kemandirian warga dalam pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas. Selain itu, dosen dan mahasiswa menyusun modul manajemen sanitasi yang dilengkapi dengan prosedur operasional standar (SOP) perawatan serta mekanisme pengawasan kualitas air. Langkah ini dirancang agar sistem dapat berfungsi secara berkelanjutan dan tidak bergantung sepenuhnya pada pendampingan eksternal.
Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak yang menekankan kontribusi nyata perguruan tinggi dalam menjawab persoalan masyarakat berbasis sains dan teknologi tepat guna. Wali Nagari Guguak Malalo, Mulyadi, mengungkapkan bahwa sedikitnya tiga perguruan tinggi terlibat dalam pemulihan wilayahnya. Selain Universitas Prima Nusantara, terdapat Universitas Negeri Padang dan Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia.
Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia berkontribusi dalam rehabilitasi lahan pertanian dan perkebunan masyarakat, sementara Universitas Negeri Padang memberikan dukungan psikososial, khususnya bagi anak-anak terdampak. Sinergi lintas kampus ini dinilai mempercepat proses pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat, sekaligus memperkuat ketahanan nagari menghadapi risiko bencana di masa mendatang.
Melalui program Mahasiswa Berdampak, Kemdiktisaintek menegaskan peran strategis pendidikan tinggi tidak hanya sebagai pusat pembelajaran, tetapi juga sebagai motor pemberdayaan dan solusi konkret bagi masyarakat Sumatra Barat yang terdampak bencana.




















