Headline.co.id, Jogja ~ Penurunan outlook kredit Indonesia oleh Moody’s Investors Service dan perhatian serupa dari Standard & Poor’s Global Ratings telah memicu diskusi mengenai kondisi ekonomi nasional. Meskipun status layak investasi masih dipertahankan, perubahan ini menandakan potensi melemahnya tata kelola kebijakan dan meningkatnya risiko fiskal, yang dapat mempengaruhi kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
Dr. Eddy Junarsin, ekonom dari Universitas Gadjah Mada, menyatakan bahwa penurunan outlook kredit ini merupakan sinyal peringatan dini terhadap meningkatnya persepsi risiko ekonomi di masa depan. Namun, hal ini belum menjadi indikator krisis ekonomi nasional. Meskipun peringkat kredit Indonesia masih berada pada level layak investasi, perubahan outlook ini mencerminkan persepsi risiko investor terhadap tata kelola kebijakan dan kapasitas institusional di masa depan. “Penurunan credit outlook harus dibaca sebagai early warning signal, artinya tidak serta-merta menjadi vonis krisis,” jelasnya pada Selasa (24/2).
Dr. Eddy menambahkan bahwa penurunan outlook kredit belum menunjukkan ancaman fundamental terhadap perekonomian nasional, melainkan lebih sebagai sinyal reputasi dan persepsi risiko di pasar global. Beberapa indikator makroekonomi masih menunjukkan kondisi yang relatif kuat, seperti pertumbuhan ekonomi tahun 2025 sebesar 5,11%, inflasi Januari 2026 sebesar 3,55%, policy rate saat ini 4,75%, rasio defisit anggaran terhadap GDP 2025 sebesar 2,92%, dan rasio utang terhadap GDP 2025 sebesar 40,46%. Tantangan utama, menurutnya, terletak pada kredibilitas kebijakan ke depan. “Yang perlu dijaga adalah kredibilitas kebijakan ke depan. Ini serius sebagai sinyal reputasi dan persepsi risiko,” ujarnya.
Dalam metodologi pemeringkatan sovereign rating yang digunakan oleh Moody’s, penilaian tidak hanya didasarkan pada kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga pada kredibilitas kebijakan, konsistensi tata kelola, dan prediktabilitas keputusan fiskal pemerintah. Faktor eksternal seperti ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar keuangan turut mempengaruhi persepsi investor, tetapi kekuatan institusi dan kebijakan domestik menjadi penentu utama. “Yang menjadi penentu utama adalah kekuatan institusi dan kredibilitas kebijakan domestik,” tambahnya.
Dalam jangka pendek, perubahan outlook kredit dapat berdampak pada sentimen pasar keuangan domestik. Reaksi awal pasar umumnya bersifat psikologis dan berbasis ekspektasi, sehingga dapat mempengaruhi nilai tukar, volatilitas pasar saham, serta biaya utang negara. “Akan tetapi, adanya depresiasi ini biasanya terbatas jika fundamental eksternal seperti cadangan devisa dan neraca pembayaran tetap terjaga,” imbuh Dr. Eddy.
Di pasar saham, perubahan outlook dapat mendorong aksi ambil untung investor asing dan meningkatkan volatilitas. Dampak paling sensitif biasanya terlihat pada pasar obligasi pemerintah, di mana outlook yang menurun dapat meningkatkan risk premium dan mendorong kenaikan imbal hasil surat utang negara. Namun, Dr. Eddy menekankan bahwa besaran dampak sangat bergantung pada respons kebijakan. “Jika komunikasi kebijakan kredibel dan disiplin fiskal terjaga, gejolak pasar cenderung bersifat sementara,” katanya.
Untuk mengatasi perubahan outlook kredit, Dr. Eddy menegaskan pentingnya memulihkan kredibilitas kebijakan. Pemerintah perlu mempertegas kerangka fiskal jangka menengah dan memastikan setiap ekspansi belanja memiliki sumber pembiayaan yang jelas. Disiplin fiskal harus terlihat sebagai komitmen struktural yang konsisten. “Yang paling mendesak bukan sekadar kebijakan baru, tetapi pemulihan kredibilitas kebijakan,” tuturnya.
Ia juga menyoroti pentingnya konsistensi dan transparansi komunikasi kebijakan untuk menjaga kepercayaan pasar. Pemerintah perlu memperkuat reformasi struktural, termasuk peningkatan daya saing dan efisiensi birokrasi. “Intinya bukan reaktif terhadap pasar, tetapi membangun kredibilitas,” tutup Dr. Eddy.




















