Headline.co.id, Jogja ~ Pertanian di berbagai negara saat ini menghadapi tantangan yang semakin berat. Pertumbuhan populasi yang terus meningkat, perubahan cuaca yang sulit diprediksi, dan kebutuhan pangan yang terus bertambah menjadi faktor utama. Di sisi lain, ketersediaan air dan energi yang menjadi penopang utama sistem produksi dan distribusi pangan semakin terbatas. Situasi ini menuntut perubahan dalam pengelolaan pertanian, termasuk di Indonesia yang sangat bergantung pada sumber daya alam.
Pendekatan pengelolaan pertanian yang lebih terpadu menjadi salah satu solusi yang diusulkan. Hal ini diangkat dalam penelitian berjudul “Optimizing Water–Energy–Food Nexus: Achieving Economic Prosperity and Environmental Sustainability in Agriculture” yang dilakukan oleh Andrianto Ansari, S.TP., M.Agr., Ph.D, dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, bersama tim lintas disiplin. Penelitian ini menyoroti hubungan erat pengelolaan air, energi, dan pangan dalam sistem pertanian modern, yang dinilai relevan untuk pembangunan pertanian berkelanjutan di Indonesia.
Menurut Andrianto, pendekatan water–energy–food nexus melihat pertanian sebagai sistem yang saling terhubung. Air diperlukan untuk menanam dan menghasilkan pangan, sementara energi mendukung irigasi, pengolahan hasil, hingga distribusi. “Air, energi, dan pangan saling menguatkan dan tidak bisa dikelola secara terpisah. Dalam proses produksi pangan, ketiganya bekerja sebagai satu kesatuan,” ujarnya pada Selasa (3/2).
Pendekatan ini juga terkait erat dengan konsep circular bioeconomy, di mana limbah pertanian tidak lagi dianggap sebagai sisa yang harus dibuang. Limbah dapat diolah kembali menjadi energi, pupuk hayati, atau bahan pendukung produksi, yang membantu mengurangi pemborosan dan menjaga lingkungan. “Pemanfaatan ulang sumber daya hayati membuat pertanian lebih efisien tanpa menurunkan produktivitas,” jelas Andrianto.
Meskipun menawarkan banyak peluang, penerapan pendekatan terpadu ini masih menghadapi tantangan. Koordinasi antar sektor sering kali belum selaras, dan keterbatasan teknologi serta infrastruktur menjadi kendala, terutama di daerah dengan akses terbatas. Kondisi ini paling dirasakan oleh petani kecil yang tanpa dukungan memadai berisiko tidak berkelanjutan. “Pendekatan seperti ini tidak bisa jalan sendiri. Perlu dukungan kebijakan dan kerja kolaboratif banyak pihak supaya benar-benar bisa diterapkan. Kalau tidak, upaya di lapangan biasanya berhenti di tengah jalan,” ungkapnya.
Selain tantangan teknis, faktor sosial dan budaya juga memengaruhi keberhasilan. Perubahan cara bertani dan mengelola sumber daya tidak selalu mudah diterima, terutama ketika menyangkut kebiasaan yang sudah lama berlangsung. Sebagian petani membutuhkan contoh nyata sebelum yakin mencoba cara baru. Proses adaptasi juga berbeda di setiap daerah, sehingga dibutuhkan waktu, pendampingan, dan pemahaman bersama. “Perubahan di pertanian itu bukan cuma soal alat atau teknologi. Yang jauh lebih penting, masyarakatnya siap atau tidak. Kalau petani merasa dilibatkan dan didampingi, prosesnya biasanya jauh lebih lancar,” tutur Andrianto.
Kajian ini menegaskan pentingnya cara pandang baru dalam pembangunan pertanian. Keterpaduan air, energi, dan pangan membuka peluang menjaga produktivitas sekaligus kelestarian lingkungan. Pendekatan tersebut semakin relevan di tengah tekanan global yang terus meningkat. Dengan pengelolaan yang seimbang, pertanian dapat tumbuh tanpa menguras sumber daya alam. “Cara kita mengelola sumber daya hari ini akan sangat menentukan masa depan pertanian. Keputusan sekarang dampaknya bisa dirasakan bertahun-tahun ke depan,” pungkas Andrianto.





















