Headline.co.id, Jakarta ~ Praktik ngalap berkah atau tabarruk masih menjadi perbincangan di tengah umat Islam karena kerap dijumpai dalam tradisi pesantren dan komunitas Muslim tradisional, namun juga menimbulkan perbedaan pandangan. Tabarruk dipahami sebagai usaha mencari tambahan kebaikan, ketenangan, dan kemudahan hidup melalui perantara yang dianggap dekat dengan Allah SWT. Sejumlah ulama dari kalangan Sunni dan Syiah menegaskan bahwa praktik ini memiliki dasar dalam Al-Qur’an, hadis, serta tradisi Islam klasik, selama dilakukan sesuai batasan syariat dan tidak bertentangan dengan tauhid.
Di Indonesia, praktik ngalap berkah lazim diwujudkan melalui meminum sisa air minum kiai, mencium tangan kiai, hingga berziarah ke makam para ulama. Tradisi tersebut hidup di lingkungan pesantren dan dipahami sebagai bentuk penghormatan serta ikhtiar spiritual. Meski demikian, muncul pertanyaan di masyarakat mengenai hukum dan batasan praktik tabarruk dalam Islam.
Pengertian Tabarruk dalam Islam
Secara bahasa, tabarruk berasal dari akar kata Arab ب ر ك (ba-ra-ka) yang bermakna pertumbuhan, keberlimpahan, dan kebaikan yang tetap. Dalam konteks syariat, tabarruk dimaknai sebagai upaya mencari tambahan kebaikan melalui perantara yang diizinkan oleh agama.
Habib Zaynu Al-Abidin Ba’alawi menjelaskan bahwa tabarruk merupakan praktik yang disyariatkan selama tidak disertai keyakinan yang menyimpang. “Tabarruk adalah bagian dari tawassul yang syar’i dan dibenarkan oleh Al-Qur’an dan hadis, selama niatnya tetap mengarah kepada Allah SWT,” tulis Ba’alawi dalam kitab Al-Ajwibah al-Ghaliyah fi Aqidati al-Firqati an-Najiyah.
Dalil Al-Qur’an tentang Tabarruk dalam Pandangan Ulama Sunni
Ulama Sunni menjadikan sejumlah ayat Al-Qur’an sebagai dasar kebolehan tabarruk, di antaranya Surah Al-Maidah ayat 35:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung.”
Ayat ini menjadi landasan umum tentang perintah mencari wasilah yang disyariatkan dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Dalil lain terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 248:
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ
Artinya:
“Dan Nabi mereka berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya Tabut kepadamu yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, yang dibawa oleh malaikat.’”
Ayat ini dipahami sebagai dalil bahwa peninggalan orang-orang saleh dapat menjadi sebab hadirnya ketenangan dan keberkahan atas izin Allah.
Dalil Hadis tentang Praktik Tabarruk
Dalil hadis juga menunjukkan bahwa tabarruk telah dipraktikkan sejak masa Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari disebutkan:
كَانَتْ أُمُّ سَلَمَةَ تَحْتَفِظُ شَعَرَةً مِنْ شَعَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَارُورَةٍ، فَإِذَا مَرِضَ إِنْسَانٌ بَعَثَتْ إِلَيْهِ بِمَائِهَا فَاسْتَشْفَى بِهِ
Artinya:
“Ummu Salamah menyimpan sehelai rambut Nabi SAW dalam botol. Jika ada orang yang sakit, ia mengirimkan air yang telah dicelupi rambut tersebut untuk diminum guna mencari kesembuhan.”
Hadis lain yang diriwayatkan Imam Muslim menyebutkan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِالْمَاءِ مِنَ الْمَطَاهِرِ فَيَشْرَبُهُ يَرْجُو بَرَكَةَ أَيْدِي الْمُسْلِمِينَ
Artinya:
“Nabi SAW diberi air dari tempat-tempat wudhu, lalu beliau meminumnya dengan mengharap berkah dari tangan-tangan kaum Muslimin.”
Hadis-hadis tersebut menjadi dasar bahwa tabarruk dengan orang saleh dan peninggalannya dibenarkan dalam Islam.
Pandangan Ulama Syiah tentang Tabarruk
Dalam mazhab Syiah, tabarruk juga dipandang sebagai praktik keagamaan yang sah. Ayatullah Ja’far Subhani menegaskan bahwa tabarruk tidak dapat disebut syirik selama tidak disertai keyakinan menyembah selain Allah.
Subhani merujuk Surah Maryam ayat 31:
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ
Artinya:
“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada.”
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memberikan keberkahan kepada individu tertentu, yang kemudian dapat menjadi perantara tabarruk.
Dalil lain terdapat dalam Surah Shad ayat 29:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ
Artinya:
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh berkah.”
Selain itu, riwayat Ahlul Bait menyebutkan bahwa para sahabat Nabi bertabarruk dengan peninggalan beliau, seperti rambut dan keringat Nabi Muhammad SAW.
Batasan dan Syarat Tabarruk dalam Islam
Para ulama menegaskan bahwa tabarruk memiliki batasan yang tidak boleh dilanggar. Prinsip utamanya adalah menjaga kemurnian tauhid, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Fatihah ayat 5:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya:
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”
Islam juga melarang keyakinan bahwa benda atau manusia memiliki kekuatan memberi manfaat secara mandiri, sebagaimana Surah Al-A’raf ayat 188:
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
Artinya:
“Katakanlah: ‘Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun mudarat bagi diriku sendiri, kecuali apa yang dikehendaki Allah.’”
Tabarruk juga tidak boleh menggantikan ikhtiar lahiriah, seperti berobat atau berusaha secara rasional.
Dalam pendekatan living hadis dan sosiologi agama, praktik ngalap berkah dipahami sebagai tradisi yang memiliki fungsi spiritual dan sosial. Praktik meminum sisa air kiai atau mencium tangan kiai bukan sekadar ritual, tetapi juga memperkuat hubungan santri dan kiai serta membangun hierarki spiritual di pesantren.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa tabarruk tidak hanya berdimensi teologis, tetapi juga berperan dalam membentuk kohesi sosial dan identitas keagamaan komunitas Muslim.
Berdasarkan kajian Al-Qur’an, hadis, serta pandangan ulama Sunni dan Syiah, tabarruk atau ngalap berkah memiliki dasar yang kuat dalam Islam. Hukum asalnya adalah boleh, bahkan dalam kondisi tertentu bernilai sunnah, selama dilakukan dengan niat mencari keridaan Allah, menggunakan perantara yang dibenarkan syariat, serta tidak melanggar prinsip tauhid. Dengan memahami batasan-batasan tersebut, praktik ngalap berkah dapat dipahami sebagai bagian dari ekspresi keberagamaan yang sah dan hidup di tengah masyarakat Muslim.























