Headline.co.id, Batang ~ Dalam rangka memperingati Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) tingkat Jawa Tengah, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan meluncurkan program dana pensiun bagi guru Madrasah Diniyah (Madin) di Kabupaten Batang. Acara ini dijadwalkan berlangsung pada puncak istighotsah di Jalan Veteran Batang, Minggu (1/2/2026) malam.
Bupati Faiz Kurniawan menyatakan bahwa program ini merupakan bentuk apresiasi pemerintah daerah terhadap dedikasi para guru Madin yang selama ini kurang mendapatkan jaminan masa tua. Dengan anggaran tahunan sebesar Rp1,1 hingga Rp1,2 miliar, program ini ditujukan untuk sekitar 6.600 guru. “Nanti malam diumumkan, nanti malam hadir ya. Prinsipnya kita akan memberikan dana pensiun kepada 6.600 guru madin. Jadi nanti kalau guru-guru madin tersebut pensiun akan mendapatkan sekitar Rp180 juta sampai Rp210 juta per orang,” jelas Faiz.
Meskipun ada pembahasan mengenai sumber dana yang terkait dengan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD), Bupati menegaskan bahwa kesejahteraan guru Madin adalah prioritas utama. “Setahun sebenarnya nggak terlalu besar, sekitar Rp1,1 sampai Rp1,2 miliar. Tapi kan punya benefit yang cukup besar kepada guru madin yang selama ini mereka tidak memiliki dana pensiun ketika purna tugas,” tambahnya.
Untuk pendataan, pemerintah daerah akan bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) yang telah memverifikasi penerima insentif daerah. Pemilihan Batang sebagai lokasi perayaan Harlah NU Satu Abad tingkat Jawa Tengah didasarkan pada posisi geografisnya yang strategis.
Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) menyatakan bahwa Batang terletak di tengah-tengah Jawa Tengah, sehingga mudah dijangkau dari berbagai penjuru. “Batang lokasi secara geografis di tengah-tengah. Gampang dicapai dari ujung Jawa Tengah mana pun, mulai dari Pantura sampai Pantai Selatan itu dekat. Yang kedua, Bupatinya juga sahabat kita,” ungkap Gus Rozin.
Selain peluncuran dana pensiun, rangkaian Harlah ini juga diisi dengan Apel Kemanusiaan yang melibatkan berbagai badan otonom NU seperti Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, hingga Pagar Nusa. Gus Rozin menekankan bahwa kegiatan ini menunjukkan komitmen NU untuk hadir dalam isu-isu krusial masyarakat, termasuk penanganan bencana. “Kita pengin NU ini lebih hadir secara riil di dalam denyut nadi dan nafas serta isu-isu yang ada di masyarakat. Ini menunjukkan komitmen kita untuk peduli kepada persoalan kemanusiaan juga kebangsaan pada abad yang kedua ini,” tegasnya.
Pada malam harinya, acara akan dilanjutkan dengan istighotsah, di mana para Nahdliyin akan berdoa agar NU senantiasa diberkahi. “Nanti malam kita berdoa. Acara yang ketiga, istigasah. Itu secara transendental kita berdoa agar NU ini senantiasa diberkahi dan selalu ada untuk Nahdliyin,” pungkas Gus Rozin.





















