Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah mengerahkan 10.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat untuk terlibat dalam pemulihan wilayah terdampak bencana di Sumatra. Acara pelepasan mahasiswa ini dilakukan secara simbolis di Auditorium Universitas Negeri Medan, Sumatra Utara, pada Rabu (28/1/2026), dan dihadiri oleh ribuan mahasiswa peserta program.
Para mahasiswa tersebut akan berpartisipasi dalam program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra. Program ini merupakan langkah strategis pemerintah untuk memperkuat fase pemulihan awal pascabencana, yang dianggap penting sebagai jembatan penanganan darurat dan pemulihan sosial ekonomi jangka panjang berbasis kemandirian masyarakat.
Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di beberapa wilayah di Sumatra pada akhir 2025 telah merusak infrastruktur, mengganggu mata pencaharian, akses layanan dasar, serta ketahanan sosial masyarakat. Kondisi ini memerlukan pendekatan pemulihan yang lebih adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Mahasiswa diposisikan sebagai aktor kunci dalam pemulihan sosial. Dengan kemampuan adaptasi yang tinggi, pendekatan sosial yang fleksibel, serta latar belakang keilmuan lintas disiplin, mereka diharapkan dapat mengisi ruang kebutuhan darurat dan pembangunan kembali kapasitas masyarakat.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa adalah wujud nyata peran perguruan tinggi sebagai pusat solusi atas persoalan kebangsaan. “Kami ingin mahasiswa hadir bukan hanya membawa tenaga, tetapi juga inovasi dan empati. Sepuluh ribu mahasiswa ini kami lepas sebagai kekuatan intelektual bangsa yang turun langsung membantu masyarakat Sumatra pulih secara berkelanjutan melalui teknologi dan solusi yang tepat guna,” ujar Menteri Brian.
Program Mahasiswa Berdampak dirancang sebagai mobilisasi nasional kekuatan intelektual mahasiswa. Peserta berasal dari organisasi kemahasiswaan resmi seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa (HIMA), dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang telah memiliki pengalaman berorganisasi serta jejaring sosial di tingkat kampus dan masyarakat.
Setiap tim bersifat multidisiplin dan terdiri atas minimal 50 mahasiswa. Mereka akan menetap di lokasi terdampak selama sekitar satu bulan atau menyelesaikan sedikitnya 160 Jam Kerja Efektif Mahasiswa (JKEM). Skema ini dirancang agar pendampingan masyarakat berjalan lebih intensif, terukur, dan berkelanjutan.
“Mahasiswa memiliki keunggulan karena mampu hidup bersama masyarakat, beradaptasi dengan cepat, dan menerjemahkan ilmu pengetahuan menjadi solusi yang sederhana serta aplikatif. Di lapangan, mereka tidak hanya mengabdi, tetapi juga ditempa menjadi lulusan yang berempati, tangguh, dan bertanggung jawab,” kata Menteri Brian.
Melalui program ini, Kemdiktisaintek berharap perguruan tinggi semakin berperan aktif dalam agenda pemulihan pascabencana nasional, sekaligus membentuk karakter mahasiswa sebagai agen perubahan yang peka terhadap persoalan sosial dan siap berkontribusi bagi pembangunan daerah.


















