Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, mengimbau Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk bertransformasi dari peran tradisionalnya sebagai regulator menjadi fasilitator investasi di sektor farmasi. Langkah ini diharapkan dapat mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen. Pernyataan ini disampaikan Menkes dalam sambutannya pada Peringatan HUT ke-25 BPOM di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Menkes Budi menekankan bahwa sektor kesehatan memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung investasi nasional agar target pertumbuhan ekonomi dapat tercapai. Untuk mencapai pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sesuai target, sektor kesehatan memerlukan investasi sekitar 9 miliar dolar AS per tahun. Investasi ini dibagi ke dalam tiga sektor utama, yaitu farmasi, alat kesehatan, dan layanan kesehatan.
“APBN hanya mampu menutup sekitar 10 hingga 15 persen dari total kebutuhan belanja negara, sehingga sisanya harus dipenuhi melalui investasi swasta,” ujar Menkes. Ia menegaskan bahwa regulasi harus menjadi instrumen yang memudahkan masuknya investasi swasta, bukan menjadi penghambat.
Menkes juga menyoroti pentingnya hilirisasi produk turunan plasma darah. Indonesia, sebagai produsen darah terbesar keempat di dunia, masih mengimpor 100 persen produk plasma seperti Albumin dan IVIG. Menkes meminta BPOM untuk mempercepat sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) bagi pabrik pengolahan plasma, dengan target pada 2027 Indonesia dapat memproduksi produk plasma darah secara mandiri.
“Jika ini berhasil, kita tidak hanya mengurangi impor, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan memastikan nilai tambah ekonomi tetap di dalam negeri,” jelas Menkes. Ke depan, BPOM juga diharapkan fokus pada pengembangan produk biologi dan biosimilar dalam kerangka advanced therapeutics.
Menkes menilai bahwa industri farmasi global akan bergeser dari berbasis kimia menuju produk biologi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. “Kita harus melakukan lompatan ke industri farmasi berbasis biologi,” tegasnya. Dengan memfasilitasi investasi pada obat-obatan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, seperti untuk penyakit jantung, stroke, dan kanker, Menkes berharap BPOM dapat berperan langsung dalam memastikan pertumbuhan ekonomi nasional berdampak positif bagi kesejahteraan rakyat.


















