Headline.co.id, Jakarta ~ Transformasi pembelajaran sains di sekolah kini semakin mengedepankan pemahaman konsep yang mendalam, berkat pemanfaatan teknologi digital. Papan Interaktif Digital (PID) kini digunakan untuk memvisualisasikan materi abstrak seperti teori kinetik gas, sehingga lebih mudah dipahami oleh siswa. Inisiatif ini merupakan bagian dari program Digitalisasi Pembelajaran yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), bertujuan untuk mendorong pendekatan pembelajaran mendalam agar siswa tidak hanya menghafal, tetapi memahami proses ilmiah secara menyeluruh.
Penggunaan PID memberikan manfaat langsung di ruang kelas. Pudyo Laksono, Kepala SMAN 1 Indralaya, menyatakan bahwa papan interaktif digital memudahkan guru dalam menjelaskan konsep sains yang sebelumnya sulit dibayangkan oleh siswa. “Pada materi teori kinetik gas, khususnya hukum Boyle, siswa kini tidak lagi sekadar menghafal hubungan tekanan, volume, dan suhu. Melalui papan interaktif digital, mereka dapat melihat visualisasi pergerakan partikel secara langsung,” ujar Pudyo dalam keterangan tertulis yang diterima , Senin (26/1/2026).
Pudyo menjelaskan bahwa simulasi pada PID memungkinkan siswa mengamati bagaimana tekanan meningkat saat partikel dipadatkan dalam sebuah wadah, hingga terlihat indikator tekanan yang tinggi. Visualisasi ini membantu siswa memahami konsep ilmiah secara logis dan kontekstual. Hingga Januari 2026, seluruh sekolah di Provinsi Sumatra Selatan telah menerima bantuan PID. Di tingkat satuan pendidikan, pemanfaatannya dilakukan secara kolaboratif melalui komunitas belajar guru. Di SMAN 1 Indralaya, tim penjaminan mutu sekolah bahkan melakukan proyek percontohan dan pengimbasan kepada guru lain, termasuk penyusunan standar operasional penggunaan perangkat agar tetap awet dan optimal.
Marion, Kepala SMPN 1 Lubuk Liat, juga menyatakan bahwa PID menjadi sarana penting untuk variasi pembelajaran seiring perkembangan teknologi. “Anak-anak tidak mengalami kesulitan beradaptasi karena sistemnya berbasis Android, yang sudah akrab dengan keseharian mereka,” katanya. Sementara itu, Kepala SDN 6 Pemulutan Barat, Desi Huswinda, menilai PID mampu menciptakan suasana kelas yang lebih dinamis dan menyenangkan, khususnya bagi siswa sekolah dasar di wilayah pedesaan. “Kehadiran PID menjadi langkah nyata untuk menghadirkan akses pendidikan yang setara, termasuk bagi siswa di daerah yang sebelumnya terbatas fasilitas pembelajarannya,” ungkapnya.
Implementasi Digitalisasi Pembelajaran melalui PID menegaskan arah kebijakan Kemendikdasmen yang menempatkan teknologi sebagai sarana penguat pembelajaran bermakna, bukan tujuan semata. Teknologi dimanfaatkan untuk menumbuhkan daya pikir kritis, memperkuat pemahaman konseptual, serta menyesuaikan proses belajar dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan zaman. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa program Digitalisasi Pembelajaran dirancang tidak hanya untuk pemenuhan sarana prasarana, tetapi juga untuk menjangkau wilayah dengan tantangan geografis.
“Digitalisasi Pembelajaran menjangkau lebih dari 288.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Kami berharap pemenuhan sarana prasarana ini menjadi semangat bersama untuk menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu,” ujarnya. Ia menambahkan, khusus untuk daerah sulit dijangkau, pemerintah menyediakan paket bantuan lengkap. “Kami tidak hanya mengirimkan PID, tetapi juga membantu penyediaan listrik dan jaringan internet melalui Starlink, sehingga perangkat dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran, termasuk pembelajaran jarak jauh,” tutup Abdul Mu’ti.



















