Headline.co.id, Bandung ~ Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat dalam menangani bencana longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Penanganan difokuskan pada evakuasi korban, dukungan darurat di lapangan, serta langkah mitigasi untuk mencegah terulangnya bencana serupa.
Longsor terjadi pada Jumat (23/1/2026) sekitar pukul 03.00 WIB di Kampung Pasirkuning RT 05/11 dan Kampung Pasirkuda RT 01/10 akibat hujan deras. Material tanah dan air yang longsor menyebabkan puluhan rumah warga terdampak dan memicu evakuasi besar-besaran oleh tim SAR gabungan.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, yang meninjau langsung lokasi bencana pada Minggu (25/1/2026), menginstruksikan seluruh balai teknis Kementerian PU di Jawa Barat untuk tetap siaga dan memberikan dukungan maksimal terhadap penanganan darurat. “Fokus utama saat ini adalah membantu penanganan darurat dan evakuasi oleh Basarnas dan tim SAR gabungan dengan menyiagakan alat berat serta sarana pendukung yang dibutuhkan lainnya,” ujar Menteri PU.
Untuk mendukung evakuasi dan pembersihan material longsor, Kementerian PU melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) DKI Jakarta–Jawa Barat mengerahkan enam unit excavator PC 75, dengan tiga unit sudah siaga di lokasi dan tiga lainnya dalam proses mobilisasi. Dukungan tambahan datang dari BBWS Citarum dan BBWS Cimanuk Cisanggarung yang turut menyiagakan sejumlah alat berat.
Kepala BBWS Citarum, Marasi Deon Joubert, menjelaskan bahwa dari sembilan alat berat yang dikerahkan, enam sudah berada di lokasi. Sebagian alat telah dioperasikan, namun sempat dihentikan sementara karena adanya longsor susulan. “Sudah ada yang mulai dioperasikan untuk membantu evakuasi, tapi karena tadi ada longsor susulan, sementara ini alatnya diminta standby dulu sambil menunggu arahan lebih lanjut dari Basarnas,” ujarnya.
Selain alat berat, Kementerian PU juga memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi. Melalui Tim Tanggap Darurat Air dan Sanitasi (TARAT) Cipta Karya Jawa Barat, pemerintah menyiapkan dua unit toilet portabel, dua unit tangki air berkapasitas 4.000 liter, serta dua unit hidran umum berkapasitas 2.000 liter di sekitar lokasi dan posko terpadu.
Berdasarkan data sementara, sedikitnya 44 rumah warga terdampak longsoran. Hingga Jumat malam, tercatat 112 orang dilaporkan hilang, 23 orang selamat, dan 9 orang meninggal dunia. Sebanyak 80 orang lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.
Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa material longsoran berasal dari lereng kaki Gunung Burangrang yang runtuh akibat hujan deras berturut-turut dan terbawa aliran air menuju kawasan permukiman. Kondisi tanah yang masih labil dan berkadar air tinggi membuat proses evakuasi dilakukan secara hati-hati dan bertahap. “Untuk proses evakuasi, hari ini kita sudah mulai menggunakan alat berat terpilih di sektor-sektor tertentu. Mudah-mudahan bisa membantu kita mempercepat penemuan korban,” kata Syafii.
Pemerintah memastikan penanganan bencana dilakukan secara terkoordinasi dengan mengutamakan keselamatan warga dan tim di lapangan, sekaligus menyiapkan langkah pemulihan dan penataan wilayah terdampak secara berkelanjutan.




















