Headline.co.id, Jakarta ~ Memasuki hari ke-60 setelah bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatra pada 25 November 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan berbagai kementerian serta lembaga terkait fokus pada upaya pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Langkah ini mencakup percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) serta normalisasi Sungai Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa pembangunan huntara di Tapanuli Selatan dilakukan bersama oleh Danantara, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dan BNPB. “Pembangunan huntara ini sangat penting untuk memastikan warga terdampak dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik,” kata Abdul Muhari dalam keterangan yang diterima , Minggu (25/1/2026).
Rincian pembangunan huntara meliputi 186 unit di Desa Simarpinggan, Kecamatan Angkola Selatan yang dikerjakan oleh Danantara, dan 245 unit di Desa Napa, Kecamatan Batang Toru yang dikerjakan oleh Kementerian PU. Selain itu, BNPB mengerjakan dua titik huntara terpusat, yaitu 118 unit di Desa Aek Lantong, Kecamatan Sipirok, dan 134 unit di Desa Simatohir, Kecamatan Angkola Sangkunur. Pembangunan huntara mandiri di lahan milik warga juga dilaksanakan sepenuhnya oleh BNPB.
Pemerintah menargetkan penyelesaian pembangunan huntara sebelum bulan Ramadhan agar warga terdampak dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih nyaman. Selain itu, pembangunan hunian tetap (huntap) di Tapanuli Selatan juga dilakukan secara paralel oleh Yayasan Buddha Tzu Chi. Huntap terpusat yang dibangun di wilayah PTPN, Desa Hapesong, telah mencapai 30 persen dari target 227 unit rumah, dengan target penyelesaian seluruh huntap pada akhir Maret 2026.
Normalisasi Sungai Batang Toru menjadi fokus penting bagi BNPB dan pemerintah setempat. Saat bencana terjadi pada akhir November 2025, debit air sungai meluap hingga menyapu permukiman dan area persawahan warga. Pascabencana, sungai mengalami pendangkalan signifikan akibat menumpuknya material pasir, batu, dan kayu batang pohon.
Pekerjaan normalisasi sungai terbesar dan terpanjang di Kabupaten Tapanuli Selatan ini telah dimulai sejak 8 Januari 2026 oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sumatra Utara. Hingga Sabtu (24/1/2026), pekerjaan normalisasi masih terus berjalan. Sebanyak enam alat berat dikerahkan untuk mengeruk material di badan sungai dan membangun tanggul darurat sepanjang wilayah Desa Hapesong.
Normalisasi Sungai Batang Toru merupakan langkah mitigasi bencana mengingat prakiraan musim hujan dan risiko hujan dengan intensitas tinggi yang diprediksi masih dapat terjadi hingga Maret 2026. Upaya ini penting untuk mencegah terjadinya luapan di kemudian hari.



















