Headline.co.id, Pemulihan Pendidikan Pascabanjir Di Kabupaten Bireuen ~ Aceh, mulai menunjukkan kemajuan. SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng, meski menghadapi keterbatasan fasilitas, tetap melanjutkan kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan sistem pembelajaran paralel dan penggabungan kelas. Langkah ini diambil sambil menunggu pemulihan fisik sekolah yang lebih menyeluruh.
Sekolah yang memiliki 208 siswa, didukung oleh 38 guru dan 5 tenaga kependidikan, kembali memulai pembelajaran pada Senin, 19 Januari 2026, sekitar dua minggu setelah banjir melanda. Upaya ini dilakukan untuk mencegah terjadinya learning loss di tengah situasi darurat yang dihadapi.
Kepala SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng, Muhammad Rachmad Fadhli, menyatakan bahwa sejak minggu kedua pascabanjir, seluruh warga sekolah bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah. “Padahal banyak guru dan siswa juga menjadi korban banjir dan longsor,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima , Sabtu (24/1/2026).
Dari delapan ruang belajar yang ada, hanya satu yang siap digunakan. Untuk mengatasi keterbatasan ini, sekolah memanfaatkan ruang alternatif seperti perpustakaan, ruang kepala sekolah, laboratorium TIK, aula, dan ruang OSIS. Beberapa kelas digabung agar proses belajar mengajar tetap berlangsung.
Namun, pembelajaran masih dilakukan dalam kondisi yang sangat terbatas. Banyak perabotan rusak akibat terendam banjir, sehingga kegiatan belajar berlangsung tanpa meja dan kursi. “Untuk sementara, siswa belajar duduk di lantai dengan alas terpal,” jelas Fadhli.
Selain pemulihan fisik, sekolah juga mengadakan kegiatan trauma healing bagi guru dan siswa sebagai bagian dari pemulihan psikososial. Pendampingan ini penting agar siswa dapat kembali belajar dengan nyaman dan aman setelah mengalami bencana.
Dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, TNI, Polres, Cabang Dinas Pendidikan, dan mahasiswa. Bantuan dana yang diterima digunakan untuk pembersihan sekolah, dan alat berat sempat diturunkan selama tiga hari untuk mempercepat normalisasi lingkungan sekolah.
Sekolah juga menerima bantuan tenda untuk ruang belajar sementara dan mengajukan kelas darurat yang rencananya akan dipasang di lapangan futsal sekolah. Meski bangunan utama masih dapat digunakan, kerusakan fisik cukup signifikan. “Dinding banyak yang retak, cat terkelupas, pintu dan jendela rusak bahkan ada yang copot. Air banjir sampai ke atap dan menyebabkan lantai longsor,” ungkap Fadhli.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, mengapresiasi ketangguhan satuan pendidikan dan gotong royong masyarakat dalam menjaga keberlangsungan layanan pendidikan pascabencana. “Dalam kondisi darurat, prioritas utama adalah memastikan anak-anak tetap dapat belajar dengan aman dan bermakna, meskipun harus dilakukan secara paralel, menumpang, atau menggunakan ruang sementara,” tegasnya.
Kemendikdasmen terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP), serta pemangku kepentingan terkait untuk mempercepat pemulihan sarana prasarana dan layanan pendidikan di wilayah terdampak. Berdasarkan data Kemendikdasmen per 5 Januari 2026, total 2.639 sekolah terdampak bencana di Aceh. Sebanyak 2.805 sekolah masih melaksanakan pembelajaran di sekolah asal dengan sarana terbatas, 2.532 sekolah menggunakan tenda darurat, 82 sekolah menumpang, dan 26 sekolah menerapkan sistem double shift. Sementara itu, 94 sekolah telah siap belajar dan 166 sekolah masih dalam proses pembersihan yang ditargetkan rampung pada akhir Januari 2026, meskipun cuaca dan banjir susulan masih menjadi tantangan.
Di Kabupaten Bireuen sendiri, tercatat 32 sekolah masih dalam tahap pembersihan. Pemerintah terus mengupayakan percepatan pemulihan agar seluruh satuan pendidikan dapat kembali beroperasi normal dan layanan pendidikan bagi peserta didik tetap terjamin.





















