Headline.co.id, Jakarta ~ Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendorong transisi energi yang adil dan ambisius di tengah dinamika global. Pernyataan ini disampaikan dalam diskusi panel bertajuk “Powering the Future: Indonesia’s Strategy for a Just and Ambitious Energy Transition” yang berlangsung di Indonesia Pavilion, World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, pada Selasa (21/1/2026).
Forum tersebut menyoroti langkah strategis Indonesia dalam mempercepat transisi energi nasional, dengan tetap menjaga ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, dan pencapaian target iklim nasional. Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menegaskan peran Pertamina sebagai penggerak utama transformasi energi nasional. Pertamina terus mengembangkan energi rendah karbon, memperkuat portofolio energi bersih, dan mengadopsi teknologi seperti bioenergi, panas bumi, serta penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), sambil memastikan keterjangkauan dan ketahanan energi bagi masyarakat.
“Kami menerapkan dual growth strategy, yaitu memaksimalkan bisnis eksisting dengan meningkatkan produksi sektor hulu yang masih memiliki potensi besar, sekaligus mengembangkan bisnis rendah karbon. Salah satunya melalui pembangunan ekosistem biofuel, di mana Indonesia telah berhasil mengimplementasikan program biodiesel B40,” ujar Simon dalam keterangan yang diterima , Jumat (23/1/2026).
Para panelis sepakat bahwa transisi energi di Indonesia harus dilakukan dengan pendekatan yang kontekstual dan realistis, mengingat kebutuhan energi domestik yang terus meningkat serta peran strategis sektor energi dalam menopang industrialisasi dan penciptaan lapangan kerja. Indonesia menargetkan bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23 persen, sejalan dengan komitmen penurunan emisi menuju Net Zero Emission pada tahun 2060.
Dalam forum yang sama, Presiden Direktur RGE Indonesia, Bernard Riedo, menyoroti peluang pengembangan proyek energi rendah emisi melalui pemanfaatan sumber daya terbarukan. Ia menyebut RGE memiliki rencana pengembangan LNG di Kanada yang didukung pasokan listrik dari pembangkit tenaga air. “Dengan demikian, setelah konstruksi selesai, proyek tersebut dapat diklaim sebagai rencana energi net-zero karena sumber energinya berasal dari listrik hidro,” jelasnya.
Sementara itu, Presiden Direktur Indika Energy, Azis Armand, menekankan pentingnya kepastian kebijakan dan pendekatan transisi yang realistis agar investasi berkelanjutan dapat terus tumbuh. Menurutnya, setiap langkah transisi harus tetap memperkuat keamanan energi dan ketahanan bisnis. “Dalam konteks Indika Energy, transisi energi harus memperkuat platform bisnis agar dapat tumbuh secara berkelanjutan dan tetap layak secara finansial,” tegas Azis.
Melalui panel diskusi di Indonesia Pavilion ini, Indonesia kembali menegaskan bahwa transisi energi merupakan bagian integral dari strategi pembangunan nasional dan diplomasi ekonomi, sekaligus mencerminkan peran aktif Indonesia dalam agenda energi dan iklim global.
Sebagai informasi, WEF Annual Meeting 2026 merupakan penyelenggaraan ke-56 forum ekonomi global yang dihadiri lebih dari 2.500 pemimpin dunia dari sektor pemerintahan, bisnis, akademisi, dan masyarakat sipil. Dalam rangkaian forum tersebut, Indonesia Pavilion hadir sebagai platform resmi promosi investasi, dialog kebijakan, dan kolaborasi strategis dengan komunitas global, mengusung tema “Indonesia Endless Horizons”. Pavilion ini terselenggara melalui kerja sama Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Danantara Indonesia, dan KADIN, serta didukung oleh sejumlah perusahaan nasional terkemuka.






















