Headline.co.id, Batang ~ Di tengah cuaca yang panas, minuman es teh jumbo yang dijual di pinggir jalan menjadi pilihan yang sulit ditolak. Dengan harga yang terjangkau dan porsi yang besar, minuman ini menarik banyak peminat. Namun, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Cabang Batang mengingatkan adanya potensi bahaya, terutama bagi remaja putri.
Ketua DPC Persagi Batang, Inayati, menyampaikan kekhawatirannya saat memberikan edukasi gizi di SMPN 4 Batang. Ia menyoroti tren konsumsi es teh manis yang berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatan jangka panjang siswa.
“Masalah utama bukan hanya kadar gula yang tinggi, tetapi juga sifat teh yang dapat menghambat penyerapan zat penting dalam tubuh. Ini sangat penting bagi siswi SMP yang mulai memasuki fase menstruasi,” ujarnya saat ditemui di SMPN 4 Batang, Kabupaten Batang, Rabu (21/1/2026).
Menurut Inayati, saat menstruasi, tubuh kehilangan banyak darah. Jika tidak diimbangi dengan asupan gizi yang seimbang, risiko anemia atau kurang darah dapat meningkat. “Minuman teh itu salah satu penghambat proses penyerapan zat besi di dalam tubuh. Jika kita imbangi dengan minum teh, itu justru tidak akan meningkatkan Hemoglobin (HB) atau menyembuhkan anemia, malah memperparah,” jelasnya.
Sebagai alternatif, Inayati menyarankan siswa untuk beralih ke air putih atau minuman kaya vitamin C seperti es jeruk yang justru membantu penyerapan zat besi.
Selain es teh, makanan populer seperti seblak juga menjadi perhatian ahli gizi. Inayati menyebut seblak memang mengenyangkan, namun komposisinya belum bisa dikatakan sebagai makanan sehat yang lengkap. “Bukannya kurang bergizi, tapi kurang bergizinya karena komposisi zat gizinya belum komplit. Itu kan lebih banyak karbonya dan rendah serat. Padahal kita kan makan harus mencukupi protein, karbohidrat, vitamin, mineral, dan sebagainya,” terangnya.
Persagi Batang terus melakukan pendampingan, terutama pada satuan penyedia makanan bergizi gratis di sekolah-sekolah. Namun, Inayati mengakui bahwa tantangan terbesar gizi di Kabupaten Batang masih berada pada level balita dan pola asuh orang tua. Berdasarkan pengalamannya bertugas di Puskesmas, status gizi balita seringkali fluktuatif. Berat badan anak cenderung naik saat mendapat intervensi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal, namun kembali turun setelah program berakhir.
“Mungkin porsinya pendekatan ke orang tua, karena juga terkait dengan status ekonomi. Kalau parenting, kita selalu rutin di kegiatan kelas ibu balita dan edukasi di Posyandu,” pungkasnya.
Melalui edukasi ke sekolah-sekolah ini, Persagi berharap generasi muda Batang lebih bijak dalam memilih jajanan, agar pertumbuhan mereka tidak terhambat oleh tren konsumsi yang hanya nikmat di lidah namun minim manfaat. (MC Batang, Jateng/Edo/Sri Rahayu)




















