Headline.co.id, Jakarta ~ Program revitalisasi satuan pendidikan di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, telah menunjukkan hasil positif dengan meningkatkan mutu layanan pendidikan sekaligus memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah tersebut. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, meresmikan 59 satuan pendidikan yang telah menyelesaikan program revitalisasi pada Selasa (20/1/2026). Acara peresmian berlangsung di dua lokasi, yaitu kompleks Yayasan Al Mizan dan SMP Negeri 1 Jatiwangi.
Di Yayasan Al Mizan, peresmian mencakup TK Al Mizan dan SMK Al Ma’arif. Sementara itu, di SMP Negeri 1 Jatiwangi, Menteri Mu’ti meresmikan 57 satuan pendidikan lainnya yang terdiri dari 1 PAUD, 25 SD, 21 SMP, 2 SMA, 4 SMK, dan 4 SLB. Dalam sambutannya, Menteri Mu’ti menegaskan bahwa revitalisasi sekolah dirancang secara inklusif, mencakup sekolah negeri dan swasta. Pada tahun 2025, sebanyak 23 persen alokasi program revitalisasi diarahkan untuk sekolah swasta. “Sekolah swasta adalah mitra strategis pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, dukungan revitalisasi kami berikan secara proporsional,” ujar Menteri Mu’ti.
Sebanyak 77 persen alokasi lainnya diperuntukkan bagi sekolah negeri. Menurutnya, kebijakan ini bertujuan untuk memastikan pemerataan kualitas pendidikan. “Yang sudah baik kita pertahankan, yang tertinggal kita angkat, agar semuanya maju bersama,” imbuh Mendikdasmen. Wakil Bupati Majalengka, Dena Muhamad Ramadhan, menyampaikan bahwa pelaksanaan revitalisasi dengan metode swakelola mendorong partisipasi masyarakat sekaligus memberikan efek berganda bagi ekonomi daerah.
Berdasarkan data BPS Kabupaten Majalengka, program ini berkontribusi pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia, penurunan angka kemiskinan, kenaikan rata-rata lama sekolah, serta pertumbuhan ekonomi Majalengka sebesar 9 persen pada 2025, tertinggi di wilayah III Cirebon. Temuan tersebut sejalan dengan kajian LP3ES yang menyebutkan bahwa setiap kenaikan 1 persen alokasi dana revitalisasi sekolah berkorelasi dengan peningkatan PDRB provinsi sebesar 0,527 persen. Dampak ini terjadi melalui perputaran ekonomi lokal, penyerapan tenaga kerja, serta meningkatnya aktivitas usaha di sekitar sekolah penerima program.
Saat peresmian di SMP Negeri 1 Jatiwangi, Menteri Mu’ti menegaskan bahwa revitalisasi merupakan bagian dari kebijakan menyeluruh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mewujudkan pendidikan bermutu bagi semua. “Revitalisasi kami kaitkan dengan digitalisasi pembelajaran, peningkatan kualitas guru, serta penguatan karakter melalui pembelajaran mendalam dan budaya sekolah yang aman dan nyaman,” tegasnya. Ia menambahkan, sekolah harus menjadi ruang yang memuliakan anak. “Lingkungan belajar yang aman, bersih, dan mendukung perkembangan peserta didik adalah prasyarat utama pendidikan berkualitas,” ujarnya.
Dampak revitalisasi dirasakan langsung oleh satuan pendidikan. Pelaksana Tugas Kepala TK Al Mizan, Ela Ariesta, menyampaikan bahwa sekolah kini memiliki ruang UKS, toilet baru, serta alat permainan dalam dan luar ruangan yang lebih memadai. “Fasilitas yang lebih baik membuat anak-anak semakin semangat datang ke sekolah,” katanya. Di SMK Al Ma’arif, revitalisasi menghadirkan Ruang Praktik Siswa Teknik Sepeda Motor dan Laboratorium IPA/S. Kepala sekolah Joharul Aripin menyebut fasilitas tersebut meningkatkan kualitas pembelajaran praktik dan fokus siswa. Hal serupa dirasakan Daman, siswa kelas XI jurusan TSM, yang mengaku lebih termotivasi belajar dengan ruang praktik yang lebih luas dan tertata.
Rangkaian peresmian di SMP Negeri 1 Jatiwangi juga diisi dengan sosialisasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD dan SMP oleh Pusat Asesmen Pendidikan, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP). Disampaikan bahwa TKA tetap dapat dilaksanakan meski sarana terbatas melalui pengaturan teknis yang adaptif. Hasil TKA terintegrasi dengan asesmen nasional dan rapor pendidikan, yang menjadi rujukan jalur prestasi peserta didik serta proses akreditasi sekolah.
Dengan capaian revitalisasi yang merata dan berdampak ekonomi, Majalengka menjadi contoh bahwa investasi pada pendidikan tidak hanya meningkatkan mutu belajar, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan daerah.




















