Headline.co.id, Kemandirian Energi Menjadi Salah Satu Tujuan Utama Yang Ingin Dicapai Oleh Presiden Republik Indonesia ~ Prabowo Subianto. Fokus dari kemandirian energi ini adalah mengurangi ketergantungan impor, mengelola sumber daya domestik, memperkuat infrastruktur, memberantas korupsi di BUMN energi, serta menargetkan swasembada bahan bakar minyak (BBM) dalam lima tahun ke depan.
Ahmad Agus Setiawan, ST., M.Sc., Ph.D., seorang Pakar Sistem dan Perencanaan Energi Terbarukan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Tenaga Ahli Energi di Kantor Staf Presiden Republik Indonesia periode 2019—2024, menyatakan bahwa program pembangunan kemandirian energi Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan. Indonesia dihadapkan pada pilihan ketergantungan pada energi fosil dan transisi menuju penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT). “Tantangannya adalah bagaimana kita mengawal rencana taktis agar target tidak meleset. Belajar dari pengalaman, seperti target EBT 23% di tahun 2025 yang saat ini baru tercapai sekitar 15,7%,” ujar Ahmad Agus Setiawan pada Selasa (20/1) di Kampus UGM.
Menurut Ahmad, yang akrab disapa Aas, pemerintah selama ini terlalu bergantung pada sumber daya energi fosil. Sementara itu, dunia global telah memasuki era baru dalam pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan. “Karena kita sudah terlalu lama menggunakan energi fosil, ya orang akan memilih itu karena sudah nyaman, itu sudah pasti dianggap lebih reliable. Sebaiknya, pemerintah perlu mengawal semua rencana-rencana itu menjadi rencana yang lebih taktis,” tambahnya.
Aas mengidentifikasi beberapa masalah yang dihadapi dalam mencapai target bauran energi, lain kendala pendanaan, infrastruktur, ketergantungan energi fosil, kualitas sumber daya manusia, regulasi, dan tingkat penerimaan masyarakat. Untuk pendanaan, Aas menyebutkan bahwa pendanaan internasional kini lebih mudah diperoleh untuk proyek EBT dibandingkan fosil, namun realisasinya di lapangan tetap tidak mudah, terutama dengan kebutuhan infrastruktur yang memadai. “Nah, ternyata ketika proyeknya itu sudah membesar, kita cukup kewalahan terkait ketidaksiapan supplier di dalam negeri, manufaktur dan seterusnya,” jelasnya.
Ketergantungan masyarakat terhadap energi fosil juga mempengaruhi penerimaan terhadap pemanfaatan energi baru terbarukan. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat yang didukung oleh regulasi agar hal ini dapat berjalan dengan baik.
Meskipun demikian, komitmen untuk mengawal kemandirian energi Indonesia harus terus didukung oleh seluruh elemen masyarakat. Terlebih, dengan kondisi bumi yang kini menghadapi global heating. Solusinya adalah mitigasi melalui pengembangan EBT dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Aas menegaskan bahwa jika target 23% EBT tahun 2025 belum tercapai, solusinya bukan dengan menurunkan target, melainkan memperkuat upaya dan mendorong komitmen pemerintah. “Belajar dari pengalaman, komitmen ini harus benar-benar riil dari level Presiden hingga ke Menteri, Dirjen, bahkan masyarakat. Pembangunan EBT itu ibarat bayi yang baru belajar berjalan. Butuh investasi dan semangat besar karena ini adalah investasi masa depan,” tutupnya.




















