Headline.co.id, Sleman ~ Hartono, seorang pelaku wisata, telah mengidentifikasi perubahan perilaku pasar di era modern. Ia menyadari bahwa wisatawan saat ini tidak hanya mencari pemandangan indah atau tempat berfoto, tetapi juga pengalaman yang memberikan nilai edukasi. Berdasarkan pemahaman ini, Hartono secara konsisten mengembangkan konsep wisata edukasi dan telah berhasil mendirikan tujuh destinasi di berbagai daerah.
Empat dari destinasi tersebut terletak di Kabupaten Kulon Progo, yaitu Dolan Ndeso di Boro, Wana Delima di Pengasih, Omah Penthul di Wates, dan Ono Kaline di Kalibawang. Satu destinasi lainnya berada di Kabupaten Sleman, yaitu Kali Klangsi di Seyegan. Selain itu, dua destinasi lainnya berlokasi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dengan fokus pada edukasi hutan dan mangrove.
Destinasi-destinasi ini mengusung tema lingkungan, pertanian, dan perkebunan yang dikemas dalam paket kegiatan berbasis pengalaman langsung. Wisatawan diajak untuk terlibat secara fisik dan emosional agar nilai pembelajaran dapat dirasakan secara menyeluruh. “Wisata edukasi itu harus bisa disentuh dan dilakukan langsung oleh pengunjung. Jika hanya dilihat, nilai belajarnya tidak akan meresap,” kata Hartono saat ditemui di kediamannya di Babrik Jamblangan, Margomulyo, Seyegan, Sleman, Minggu (18/1/2026).
Salah satu segmen utama yang menjadi fokus adalah dunia pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA, melalui program pembelajaran luar ruang atau outdoor learning. Hartono menilai desa memiliki sumber belajar alami yang relevan dengan kebutuhan kurikulum, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik.
Dalam pengelolaannya, Hartono menerapkan sistem manajemen yang ramping dengan dampak ekonomi yang luas. Ia hanya mempekerjakan empat staf inti, sementara operasional lapangan melibatkan mitra lokal. Pemandu wisata berasal dari warga setempat, karang taruna dilibatkan dalam kegiatan lapangan, dan kelompok ibu-ibu mengelola sektor kuliner.
Hartono juga menerapkan konsep single product–multi income, yaitu menjual proses sebagai bagian dari edukasi. Pengunjung tidak hanya mengikuti aktivitas, tetapi juga membeli bibit, pupuk, atau pakan ternak yang digunakan selama kegiatan. “Yang dijual bukan hanya hasil akhirnya, tetapi proses belajarnya. Dari keterlibatan itulah nilai ekonomi tumbuh secara alami,” jelasnya.
Namun, Hartono mengakui bahwa tantangan terbesar adalah membangun kesepahaman dengan masyarakat desa. Menurutnya, pengembangan wisata tidak boleh merusak tatanan sosial yang telah ada, karena keberlanjutan destinasi sangat bergantung pada dukungan dan kenyamanan masyarakat setempat.
Pengalaman Hartono membuktikan bahwa wisata edukasi berbasis desa tidak hanya mampu menjawab kebutuhan pasar modern, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi dan sosial masyarakat secara berkelanjutan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




















