Headline.co.id, Jogja ~ Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil meraih Medali Emas dalam ajang 6th Indonesia International Applied Science Olympiad (I2ASPO) yang digelar pada 18-21 Desember 2025 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Tim ini berhasil mengungguli 629 peserta dari 13 negara. Tim tersebut terdiri dari Pandu Sukma Hastyadi, Samuel Khrisna Wira Waskita, dan Aqila Dziki Muhamad Iqbal dari program studi Ilmu Kimia angkatan 2022, serta Billy Natanael dan Muhammad Radithya Akmal Rasheed dari program studi Teknik Kimia angkatan 2023. Mereka dibimbing oleh dosen pendamping Fajar Inggit Pambudi, S.Si., M.Sc., Ph.D., dari FMIPA UGM.
Pandu Sukma Hastyadi, ketua tim, menjelaskan bahwa penelitian mereka berfokus pada pemanfaatan limbah botol plastik polyethylene terephthalate (PET) yang diolah menjadi karbon aktif untuk menyerap gas CO2 di atmosfer. Tim ini mengembangkan teknologi penangkapan karbon (Carbon Capture Technology) berbasis limbah plastik PET. “Inovasi ini menawarkan alternatif penangkap gas yang lebih ekonomis dibandingkan teknologi komersial yang saat ini masih terkendala biaya operasional tinggi,” ujarnya saat dihubungi pada Senin (19/1).
Pandu menambahkan bahwa pengembangan adsorben berbiaya rendah sangat penting untuk keberhasilan implementasi teknologi penangkapan karbon. Selama ini, biaya tinggi menjadi hambatan utama aplikasi teknologi ini. “Kami melihat potensi besar pada limbah botol plastik PET. Dengan kandungan karbonnya yang tinggi, limbah botol plastik PET sangat ideal untuk dijadikan prekursor karbon aktif,” jelasnya.
Samuel, anggota tim, mengungkapkan bahwa pemilihan limbah botol plastik PET didasari oleh urgensi pengelolaan sampah di Indonesia yang belum optimal. “Sekitar 48% sampah plastik saat ini masih dikelola melalui pembakaran yang justru menambah emisi CO2 ke atmosfer. Selain itu, rasio daur ulang PET di Indonesia masih tergolong rendah, hanya sekitar 13% dari kapasitas produksinya,” jelasnya. “Bagi kami, mengubah limbah ini menjadi material fungsional penangkap emisi menjadi langkah strategis yang saling menguntungkan bagi lingkungan,” tambahnya.
Billy menjelaskan bahwa meskipun banyak penelitian telah dilakukan mengenai penggunaan adsorben limbah plastik untuk aplikasi penangkapan karbon, keterbatasan kapasitas penyerapan gas CO2 masih menjadi kendala utama. Tim peneliti ini menemukan bahwa penggunaan zeolit dapat menjadi solusi masalah tersebut. “Berdasarkan referensi yang kami peroleh, pembuatan komposit karbon aktif dan zeolit memang mampu untuk mengatasi hal tersebut,” paparnya.
Fajar Inggit Pambudi, dosen pendamping tim, menekankan bahwa keunikan riset ini terletak pada aspek keberlanjutan. Penggunaan sumber material dari pemanfaatan limbah plastik yang dikombinasikan dengan material berpori (zeolit) menciptakan aspek keberlanjutan yang sangat kuat. “Riset ini menyelesaikan dua masalah sekaligus, yakni limbah plastik dan emisi CO2,” tuturnya.
Lebih lanjut, Fajar mengungkapkan bahwa terdapat potensi untuk produk ini dapat dikomersialisasi karena industri saat ini sangat membutuhkan teknologi efisien yang mampu mengubah emisi gas buang menjadi bahan baku industri atau energi.




















