Headline.co.id, Jakarta ~ Teks Khutbah Jumat lengkap dengan doanya tentang Isra Mi’raj kembali menjadi rujukan umat Islam dalam memperdalam makna perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW. Materi khutbah yang dilansir Headline.co.id dari NU Online ini disampaikan oleh Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan, Kokop, Bangkalan, Jawa Timur. Khutbah mengulas Isra Mi’raj sebagai momentum penguatan iman di tengah beratnya ujian hidup dan tantangan dakwah. Jamaah diajak meneladani sikap penghambaan Rasulullah sebagai jalan menuju kemuliaan dari Allah SWT.
Dalam teks khutbah Jumat lengkap dengan doanya tentang Isra Mi’raj tersebut, Ustadz Sunnatullah menegaskan bahwa Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan perjalanan spiritual penuh hikmah yang sarat pelajaran bagi umat Islam.
Ia menjelaskan bahwa sebelum peristiwa Isra Mi’raj terjadi, Rasulullah SAW menghadapi tekanan berat dari kaum Quraisy. Cacian, penolakan, hingga kekerasan terus dialami dalam perjalanan dakwah. Salah satu ujian paling berat dialami saat Rasulullah pergi ke Thaif dengan harapan mendapatkan dukungan, namun justru diusir dan dilempari batu hingga terluka.
Kesedihan Rasulullah semakin bertambah setelah wafatnya pamannya, Abu Thalib, yang selama ini melindungi dakwah beliau. Tidak lama kemudian, istri tercinta beliau, Khadijah, juga wafat. Rangkaian peristiwa ini menjadi fase paling berat dalam kehidupan Rasulullah.
Dalam kondisi tersebut, Rasulullah menampakkan puncak penghambaan kepada Allah SWT dengan berdoa penuh kerendahan hati, memohon pertolongan, dan menyerahkan seluruh urusan kepada-Nya. Dari sinilah kemudian datang penghormatan besar berupa peristiwa Isra dan Mi’raj.
“Undangan Isra dan Mi’raj datang sebagai bentuk penghormatan dari Allah serta pembaruan tekad dan keteguhan Rasulullah dalam berdakwah,” ujar Ustadz Sunnatullah, mengutip penjelasan Syekh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi.
Ia juga mengutip tafsir Imam Ibnu Katsir terhadap QS. Al-Isra ayat 1 yang menyebut Nabi Muhammad sebagai “abdihi” atau hamba-Nya. Menurut Ibnu Katsir, derajat penghambaan lebih tinggi dan lebih mulia dibandingkan derajat kerasulan.
“Derajat penghambaan lebih mulia daripada derajat kerasulan, karena ibadah lahir dari makhluk kepada Allah, sedangkan risalah datang dari Allah kepada makhluk,” jelasnya.
Lebih lanjut, teks khutbah Jumat lengkap dengan doanya tentang Isra Mi’raj ini menekankan bahwa ujian hidup merupakan sunnatullah bagi hamba-hamba yang dicintai Allah. Semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, semakin besar pula ujian yang harus dihadapi.
“Ujian bukan tanda kebencian Allah, melainkan sering kali merupakan tanda cinta Allah kepada hamba-Nya,” kata Ustadz Sunnatullah.
Ia mengajak jamaah menjadikan penghambaan kepada Allah sebagai sandaran utama dalam menghadapi kesulitan hidup. Ketakwaan tidak hanya diwujudkan dalam ucapan, tetapi juga dalam perilaku, pilihan hidup, dan tanggung jawab sehari-hari.
“Perbanyak doa, perkuat sujud, dan perkokoh kesabaran. Pertolongan Allah akan selalu dekat bagi mereka yang sungguh-sungguh dalam penghambaan,” tambahnya.
Selain itu, dalam khutbah tersebut juga disampaikan doa-doa yang memohon ampunan, keselamatan umat Islam, perlindungan dari berbagai bencana, serta keteguhan iman agar tetap istiqamah dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Melalui teks khutbah Jumat lengkap dengan doanya tentang Isra Mi’raj ini, Ustadz Sunnatullah berharap jamaah dapat mengambil pelajaran tentang makna kesabaran, keteguhan iman, dan keyakinan terhadap pertolongan Allah. Ia menegaskan bahwa Isra Mi’raj menjadi pengingat bahwa di balik setiap ujian selalu tersimpan hikmah dan kemuliaan bagi hamba yang berserah diri kepada-Nya.
Berikut ini adalah Teks Khutbah Jumat Lengkap dengan Doanya tentang Isra Mi’raj, Tekankan Ujian dan Penghambaan kepada Allah yang di lansir Headline Media dari Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur via Nu Online:
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلىَ عَبْدِهِ الْكِتَابَ تَبْصِرَةً لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْبَابِ، الَّذِي خَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلىَ خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ كِتَابٍ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَنْجَابِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْأَحْبَابُ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْوَهَّابِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Segala puji hanya milik Allah ta’ala, Zat Yang terus melimpahkan karunia-Nya kepada kita semua tanpa henti. Nikmat iman, kesehatan dan kedamaian yang senantiasa menyelimuti kita adalah bukti kasih sayang-Nya yang tiada tara. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, sang pembawa risalah kebenaran dan suri teladan sepanjang zaman.
Selanjutnya, sebagai khatib yang diberi amanah untuk menyampaikan khutbah di atas mimbar yang mulia ini, perkenankan saya untuk mengajak diri sendiri dan seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Mari kita rawat dan tingkatkan ketakwaan itu dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menjalankan seluruh perintah Allah dengan penuh keikhlasan serta menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan kehati-hatian.
Ketakwaan tidak hanya ucapan di lisan, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku, pilihan, dan tanggung jawab kita sehari-hari. Dengan takwa, maka hati akan menjadi tenang, langkah hidup menjadi terarah, dan pertolongan Allah senantiasa dekat dalam setiap keadaan.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita bersama-sama merenungkan salah satu peristiwa agung dalam sejarah Islam yang terjadi pada bulan Rajab, yaitu peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad. Peristiwa ini tidak hanya sebatas sejarah biasa, tetapi perjalanan spiritual yang penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga bagi kita semua. Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Artinya, “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1).
Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab Tafsir Al-Qur’anil Azhim, jilid 5, halaman 43, setiap ayat yang diawali dengan lafal tasbih (subahana) sebagaimana awal ayat ini, menjadi isyarat agung bahwa peristiwa yang akan diceritakan sesudahnya merupakan sesuatu yang sangat luar biasa dan melampaui nalar akal manusia.
Selain itu, Allah menyebut Nabi Muhammad dalam ayat ini dengan sebutan “abdihi” (hamba-Nya), bukan rasul-Nya atau nabi-Nya. Ini karena derajat penghambaan lebih tinggi dan lebih mulia daripada derajat kerasulan. Sebab, status penghambaan itu muncul dari seorang hamba kepada Allah ta’ala, sementara status rasul muncul dari Allah dan ditunjukkan kepada hamba-Nya. Ibnu Katsir berkata:
مَقَامُ الْعُبُودِيَّةِ أَشْرَفُ مِنْ مَقَامِ الرِّسَالَةِ لِكَوْنِ الْعِبَادَةِ تَصْدُرُ مِنَ الْخَلْقِ إِلَى الْحَقِّ وَالرِّسَالَةِ مِنَ الْحَقِّ إِلَى الْخَلْقِ
Artinya, “Derajat penghambaan (ubudiyah) itu lebih mulia daripada derajat kerasulan (risalah), karena ibadah muncul dari makhluk kepada Allah (Al-Haq), sedangkan risalah itu dari Allah kepada makhluk.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Peristiwa Isra Mi’raj merupakan perjalanan spiritual yang penuh hikmah di dalamnya. Namun mari kita renungkan bersama, bahwa sebelum Allah memperjalankan rasul-Nya ini, terdapat berbagai bentuk ujian dan penderitaan yang sangat berat dari kaum Quraisy yang datang menghampiri Rasulullah.
Cacian, penolakan, dan kekerasan terus ada dalam perjalanan dakwahnya. Bahkan, salah satu ujian yang paling menyakitkan adalah ketika beliau pergi ke Thaif dengan harapan akan mendapatkan sambutan dan dukungan, namun justru diusir dan dilempari batu, hingga tubuhnya terluka dan berdarah.
Tidak hanya itu, kesedihan Rasulullah semakin bertambah ketika pamannya yang bernama Abu Thalib yang senantiasa mendukung dan melindunginya dari gangguan kaum Quraisy wafat. Selang dua bulan kemudian, istri tercintanya yang bernama Khadijah juga berpulang ke Rahmatullah.
Dalam kondisi yang sangat lemah itu, Rasulullah kemudian menampakkan puncak penghambaan dirinya kepada Allah, dengan berdoa penuh kerendahan hati, mengadukan kelemahan dirinya, memohon pertolongan, dan menyerahkan sepenuhnya keadaan beliau kepada Allah SWT. Dan seketika itu, datanglah penghormatan agung dari Allah swt melalui peristiwa Isra dan Mi’raj.
Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammmad Said Ramadhan al-Buthi, dalam kitab Fiqhus Sirah an-Nabawiyyah Ma’a Mujizin li Tarikhil Khilafah ar-Rasyidah, halaman 13, ia mengatakan:
فَجَاءَتْ ضِيَافَةُ الْإِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ تَكْرِيمًا مِنَ اللَّهِ لَهُ وَتَجْدِيدًا لِعَزِيمَتِهِ وَثَبَاتِهِ، ثُمَّ جَاءَتْ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ هَذَا الَّذِي يُلَاقِيهِ عَلَيْهِ مِنْ قَوْمِهِ لَيْسَ بِسَبَبِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَخَلَّى عَنْهُ، أَوْ أَنَّهُ قَدْ غَضِبَ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا هِيَ سُنَّةُ اللَّهِ مَعَ مُحِبِّيهِ وَمَحْبُوبِيهِ. وَهِيَ سُنَّةُ الدَّعْوَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ فِي كُلِّ عَصْرٍ وَزَمَانٍ
Artinya, “Maka datanglah undangan Isra dan Mi’raj setelah itu sebagai penghormatan dari Allah kepadanya, dan sebagai pembaharuan bagi tekad dan keteguhannya. Kemudian datanglah sebagai bukti bahwa apa yang dialami olehnya (Nabi Muhammad) dari kaumnya bukanlah karena Allah telah meninggalkannya, atau karena Allah telah murka kepadanya, tetapi sesungguhnya itu adalah sunnatullah yang berlaku bagi orang-orang yang mencintai dan dicintai-Nya. Dan itu adalah sunnah dakwah Islam di setiap zaman dan waktu.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Dari peristiwa agung ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa jalan penghambaan dan dakwah tidak pernah lepas dari ujian. Justru, semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, semakin berat pula ujian yang harus ia lalui. Rasulullah telah memberi teladan nyata bahwa segala ujian hidup bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan sering kali merupakan tanda cinta dari-Nya.
Isra dan Mi’raj mengajarkan kepada kita bahwa setelah kesabaran yang panjang, Allah menghadirkan pertolongan-Nya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Setelah manusia menyakiti dan menolak, Allah sendiri yang memuliakan dan menenangkan hati kekasih-Nya. Inilah sunnatullah yang harus kita Yakini, bahwa kesulitan tidak pernah datang sendirian, tetapi selalu membawa harapan dan rahmat di dalamnya.
Oleh sebab itu, ketika kita menghadapi ujian hidup berupa kegagalan atau penolakan, janganlah kita berputus asa. Jadikanlah penghambaan kepada Allah sebagai sandaran utama. Perbanyak doa, perkuat sujud, dan perkokoh kesabaran. Sebab pertolongan Allah akan senantiasa datang kepada mereka yang paling jujur dalam penghambaan.
Demikianlah khutbah Jumat perihal peristiwa Isra Mi’raj sebagai pelajaran agung tentang ujian, penghambaan, dan anugerah kemuliaan dari Allah ta’ala. Semoga khutbah ini menambah keimanan, menguatkan kesabaran, serta meneguhkan hati kita untuk senantiasa istiqamah dalam penghambaan kepada-Nya. Dan semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dicintai dan dimuliakan-Nya. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ





















