Headline.co.id, Jakarta ~ Sebuah kajian keislaman dalam Halaqah ke-82 Silsilah Ilmiyyah Kitab Fadhlul Islam membahas secara mendalam bahaya bid’ah yang dapat menyeret seseorang hingga membenci Islam dan bahkan terjatuh pada kekufuran. Kajian ini disampaikan dalam forum halaqah yang mengulas karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, dengan penekanan pada pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an dalam Surah Ali Imran ayat 65–67. Materi disampaikan kepada para peserta halaqah sebagai bentuk penguatan akidah dan kewaspadaan terhadap penyimpangan dalam beragama. Penjelasan menyoroti bagaimana bid’ah dapat berkembang secara bertahap melalui tipu daya setan hingga berujung pada penyimpangan akidah.
Dalam halaqah tersebut, pemateri menjelaskan bahwa tema utama pembahasan masih berkaitan dengan bahaya bid’ah. Dijelaskan bahwa bid’ah bukan sekadar kesalahan dalam praktik ibadah, tetapi dapat menjadi pintu masuk menuju penyimpangan yang lebih besar. Awalnya, seseorang dapat terjerumus karena sebuah amalan yang dihias dan diperindah oleh setan sehingga tampak baik dan menenangkan. Amalan tersebut kemudian diyakini sebagai kebaikan, meskipun tidak memiliki dasar dari sunnah Nabi Muhammad ﷺ.
“Setan menghiasi sebuah bid’ah sehingga seseorang merasa nyaman dan menganggapnya sebagai kebaikan. Lama-kelamaan, muncul bisikan bahwa hidup tetap baik meski tidak mengikuti sunnah Nabi ﷺ, sehingga muncul rasa tidak membutuhkan ajaran Islam yang murni,” dijelaskan dalam materi halaqah.
Proses ini, menurut pemateri, dapat mengarah pada sikap meremehkan ajaran Islam, bahkan membenci Islam secara perlahan. Jika tidak disadari dan tidak diluruskan dengan ilmu, kondisi ini berpotensi menyeret seseorang keluar dari Islam. Dalam penjelasan disebutkan bahwa setan memiliki pola yang sama, yakni memulai dengan bid’ah atau maksiat, lalu berakhir pada kekufuran dan kesyirikan.
Sebagai contoh konkret, halaqah mengangkat kisah kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Pada awalnya, mereka membuat patung orang-orang saleh dengan tujuan mengingatkan diri kepada kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Namun, setelah generasi berganti dan ilmu mulai hilang, patung-patung tersebut disalahpahami sebagai sarana mencari syafaat. Dari sinilah kesyirikan muncul dan berkembang.
“Awalnya adalah bid’ah, kemudian berakhir dengan kesyirikan dan kekufuran. Ini menunjukkan betapa berbahayanya bid’ah karena dapat menjadi jembatan menuju syirik,” terang pemateri.
Kajian juga mengaitkan bahaya bid’ah dengan firman Allah ﷻ tentang larangan membuat syariat sendiri tanpa izin-Nya. Perilaku menetapkan aturan agama berdasarkan hawa nafsu dinilai sebagai bentuk kesyirikan dalam tasyri’ (penetapan hukum). Hal ini diperkuat dengan pembahasan ayat Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 65–67, yang menegaskan bahwa Nabi Ibrahim bukanlah penganut Yahudi maupun Nasrani, melainkan seorang yang hanif dan berserah diri kepada Allah.
Allah ﷻ berfirman, “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?” (QS. Ali Imran: 65).
Dalam halaqah dijelaskan bahwa perdebatan antara kaum Yahudi dan Nasrani tentang agama Nabi Ibrahim merupakan contoh klaim tanpa dasar ilmu. Taurat dan Injil diturunkan jauh setelah masa Nabi Ibrahim, sehingga secara logika klaim tersebut tidak dapat diterima. Sikap ini menggambarkan karakter ahlul bathil yang mendasarkan keyakinan pada hawa nafsu, bukan dalil dan akal sehat.
“Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui,” lanjut penjelasan ayat tersebut. Pesan ini menekankan pentingnya bersandar kepada wahyu dan ilmu dalam memahami agama, bukan sekadar pengakuan atau tradisi.
Pemateri juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah terpengaruh oleh syubhat atau keraguan yang dilontarkan oleh ahlul bid’ah. Dengan meneliti secara ilmiah dan mengembalikan persoalan kepada dalil, kebatilan akan tampak jelas.
“Jangan merasa minder ketika mendengar syubhat. Teliti dengan ilmu, maka akan terlihat kebatilannya,” disampaikan dalam penutup materi.
Halaqah ke-82 ini diakhiri dengan harapan agar peserta dapat mengambil manfaat dan meningkatkan kewaspadaan terhadap segala bentuk bid’ah. Kegiatan halaqah akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya dengan pembahasan lanjutan dari Kitab Fadhlul Islam, sebagai upaya menjaga kemurnian akidah dan pemahaman umat terhadap ajaran Islam.





















