Headline.co.id, Jogja ~ Eka Sari Lorena Soerbakti Direktur PT Eka Sari Lorena Group, dan Prof. Abdul Rohman, Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, dianugerahi penghargaan oleh Universitas Gadjah Mada. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dalam acara Puncak Dies Natalis UGM ke-76 yang berlangsung pada Jumat, 19 Desember, di Grha Sabha Pramana.
Eka Sari Lorena Soerbakti menerima penghargaan atas kontribusinya dalam mengembangkan kewirausahaan di kalangan mahasiswa UGM melalui program UGM Preneur yang dimulai sejak 2022. Sementara itu, Abdul Rohman mendapatkan penghargaan atas kontribusinya dalam pengembangan riset kehalalan produk.
Dalam keterangannya kepada wartawan, Eka Sari Lorena mengungkapkan rasa bangga dan senangnya dapat berperan dalam memperkuat kewirausahaan di UGM. Ia menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam membentuk pola pikir kewirausahaan yang strategis untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan. “UGM memiliki visi yang luar biasa, tidak hanya berbicara soal Tridharma, tetapi juga menjalankannya melalui inovasi dan kolaborasi,” ujarnya pada Selasa, 23 Desember.
Eka menjelaskan bahwa program UGM Preneur, yang merupakan hasil kerja sama Fakultas Teknologi Pertanian UGM dan Bawa Indonesia Global (BIG), diluncurkan pada 2022 sebagai respons terhadap tantangan ketahanan pangan pasca pandemi COVID-19. Program ini awalnya melibatkan tiga fakultas dan kini telah berkembang hingga melibatkan lebih dari 15 fakultas di UGM. “Saya belajar dari COVID. Waktu COVID saya melihat kalau kita boleh punya apa pun, tapi kalau pangan kita itu tidak memadai, susah sekali hidup ini,” jelasnya.
Menanggapi perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), Eka menekankan pentingnya pola pikir yang tidak mudah dikendalikan oleh AI. Menurutnya, AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti peran manusia. Ia menyoroti keunggulan manusia seperti empati dan kemampuan membangun relasi yang tidak dimiliki AI. “Kita harus tahu bagaimana mempergunakan AI supaya kita tidak menjadi bawahannya dia, malah kita harus menjadi atasan dia,” tambahnya.
Program UGM Preneur dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pola pikir mandiri dan kemampuan menciptakan lapangan kerja. Eka menilai bahwa lulusan perguruan tinggi perlu didorong untuk menjadi wirausahawan, bukan hanya pencari kerja. Ia berharap program ini dapat melahirkan pengusaha-pengusaha piawai yang didukung oleh kapasitas mahasiswa, kualitas riset, dan ekosistem akademik UGM.
Sementara itu, Prof. Abdul Rohman, penerima Anugerah UGM di bidang riset kehalalan produk, menegaskan bahwa isu halal tidak hanya terkait persoalan keagamaan, tetapi juga menjadi agenda strategis nasional yang berkaitan dengan kesehatan publik dan perlindungan konsumen. Ia menyebutkan bahwa Indonesia, sebagai negara dengan populasi muslim terbesar, harus memastikan produk yang beredar memiliki sertifikat halal sesuai dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.
Abdul Rohman menyoroti peran UGM sebagai pusat keilmuan halal berbasis sains. “Sebagai salah satu universitas sains yang memiliki Lembaga Pemeriksa Halal sendiri, sekaligus Center of Excellence di bidang halal, UGM berkomitmen mengembangkan riset halal yang tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi juga bisa di hilirisasi dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dan industri,” tutupnya.
Abdul Rohman dikenal dengan fokus penelitiannya pada analisis kehalalan dan autentikasi produk makanan serta farmasi. Hingga kini, ia telah mempublikasikan 134 artikel di jurnal terindeks Scopus dengan h-index 21. Di sistem SINTA, ia menduduki peringkat 6 secara nasional. Beberapa penghargaan yang telah diraihnya lain Young Scientist Scopus Award 2014 dan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa dari Kemenristek Dikti tahun 2014. Dalam dua tahun berturut-turut, ia masuk dalam daftar 2 persen ilmuwan berpengaruh di dunia.




















