Headline.co.id, Sumenep ~ Pergantian tahun di Kabupaten Sumenep dimaknai sebagai kesempatan untuk refleksi dan perbaikan diri, bukan sekadar perayaan seremonial. Masyarakat setempat melihat momen ini sebagai waktu yang tepat untuk introspeksi dan mengembangkan perilaku positif. Meski ada perbedaan pandangan mengenai perayaan Tahun Baru Masehi, warga Sumenep lebih memilih untuk menjadikannya sebagai ajang refleksi.
Nurul Hidayat, seorang pendidik di Sumenep, menyatakan bahwa kalender Masehi telah menjadi kesepakatan global yang diterima oleh berbagai negara, agama, dan budaya. Menurutnya, kalender ini tidak lagi relevan untuk dipertentangkan dari sudut pandang keyakinan tertentu. “Terlepas dari akar sejarahnya, kalender Masehi sudah menjadi sistem kehidupan dunia. Dipakai di rumah, lembaga, pemerintahan, hingga perangkat digital. Ini sudah menjadi milik bersama warga dunia,” ujarnya pada Rabu (31/12/2025).
Nurul menekankan pentingnya sikap bijak dalam menyikapi pergantian tahun. Ia tidak setuju jika perayaan dilakukan secara berlebihan atau diiringi kebiasaan yang tidak produktif. “Momentum tahun baru seharusnya dijadikan ajang introspeksi, merefleksikan kekurangan di tahun sebelumnya untuk diperbaiki pada tahun berikutnya,” pesannya.
Pandangan serupa disampaikan oleh Saleh, mantan aktivis yang dikenal dengan panggilan Cak Saleh. Ia mengajak generasi muda untuk menyambut tahun baru dengan kearifan, seperti melalui doa bersama untuk keselamatan bangsa dan kegiatan sosial yang sederhana namun bermakna. “Boleh berbagi rezeki atau berkumpul, tetapi dengan niat saling mendoakan, khususnya untuk masa depan bangsa Indonesia,” tuturnya.
Di kalangan generasi muda, sikap terhadap tahun baru juga beragam. Lubna, siswi kelas XI, menyatakan bahwa keluarganya tidak memiliki tradisi khusus merayakan pergantian tahun. Namun, momen tersebut sering dimanfaatkan untuk berkumpul dan menerima nasihat dari orang tua. “Biasanya ayah dan ibu mengingatkan agar di awal tahun memperbanyak kegiatan positif, seperti mengaji dan berdoa. Tidak hanya tahun baru Masehi, tapi juga tahun baru Hijriah,” ujarnya.
Sementara itu, Redi, seorang mahasiswa, menilai tahun baru tidak harus dirayakan secara khusus. Baginya, setiap hari merupakan kesempatan baru untuk berbenah diri. “Tahun baru sama seperti hari lainnya. Setiap hari bisa menjadi awal yang baru untuk berubah ke arah yang lebih baik,” katanya.
Dari perspektif budaya, pemerhati sejarah dan kebudayaan Sumenep, Faiq NF, menilai perayaan tahun baru juga mencerminkan keterbukaan masyarakat terhadap ragam tradisi. “Sumenep dikenal cukup terbuka dan toleran terhadap budaya luar. Namun tetap penting menjaga identitas dan akar budaya lokal agar tidak tergerus,” jelasnya.
Beragam pandangan tersebut menunjukkan bahwa pergantian tahun di Sumenep tidak semata dimaknai sebagai perayaan, melainkan sebagai momentum refleksi kolektif untuk menumbuhkan sikap bijak, toleran, dan berorientasi pada perbaikan diri serta harmoni sosial.


















