Headline.co.id, Batang ~ Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, meresmikan 69 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tim Koordinasi Akselerasi (TKA) PBNU tahap ketiga di Pondok Pesantren Al Hasani, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, pada Selasa (30/12/2025). Program pemenuhan gizi nasional ini telah menunjukkan peningkatan signifikan sejak diluncurkan pertama kali.
Pada 6 Januari 2025, BGN memulai program ini dengan 190 SPPG di 26 provinsi, melayani sekitar 570.000 penerima manfaat dengan dana harian sebesar Rp8,55 miliar. Hingga akhir 2025, jumlah SPPG telah berkembang pesat menjadi 19.000 unit yang siap melayani sekitar 55 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Dadan menjelaskan bahwa seluruh SPPG yang diresmikan akan mulai beroperasi pada 8 Januari 2026. Dana akan disalurkan ke rekening pada 2 Januari 2026, diikuti dengan persiapan sebelum peluncuran resmi pada 8 Januari. Pada hari peluncuran nasional tersebut, dana sebesar Rp855 miliar akan disalurkan dalam satu hari untuk mendukung operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebanyak 70 persen dari dana tersebut akan digunakan untuk membeli bahan baku seperti beras, telur, ayam, minyak, dan bumbu. Sementara itu, 20 persen dari dana dialokasikan untuk membayar tenaga kerja. Saat ini, sekitar 800.000 orang bekerja langsung di SPPG, dan setiap SPPG melibatkan rata-rata 15 pemasok atau supplier yang mempekerjakan 2 hingga 15 orang. Secara keseluruhan, lebih dari 1,6 juta orang akan terlibat pada 8 Januari nanti, belum termasuk petani, peternak, dan nelayan.
Dadan juga menjelaskan bahwa satu SPPG rata-rata mempekerjakan sekitar 50 tenaga kerja langsung dan mengelola anggaran operasional hingga Rp900 juta per bulan di wilayah Jawa. Sementara di Papua, anggaran per bulan dapat mencapai Rp4 miliar. Dalam satu tahun, satu SPPG akan mengelola sekitar Rp11 miliar.
Untuk mendukung keberlangsungan satu SPPG, setiap bulan dibutuhkan sekitar 5 ton beras, setara dengan hasil panen dari dua hektare lahan padi. Jika ditanam dua kali setahun, dibutuhkan minimal 12 hektare lahan, atau sekitar 8 hektare jika ditanam tiga kali setahun. Selain beras, kebutuhan telur juga cukup besar, dengan sekitar 3.000 butir telur dibutuhkan untuk satu kali pemberian makan. Oleh karena itu, satu SPPG idealnya memiliki sekitar 4.000 ayam petelur agar pasokan telur tetap terjaga.
Dadan berharap program ini tidak hanya memperkuat pemenuhan gizi masyarakat, khususnya santri dan pelajar, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal melalui keterlibatan petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha di sekitar lokasi SPPG. (MC Batang, Jateng/Roza/Sri Rahayu)





















