Headline.co.id, Denpasar ~ Indonesia menyiapkan talenta kecerdasan buatan (AI) dan keamanan siber untuk membangun ekosistem digital yang tepercaya. Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Edwin Hidayat Abdullah menyampaikan hal itu saat membuka AI, Cybersecurity, and Innovation Exchange (AICX) 2026 dalam rangkaian Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali, Selasa (20/10/2026).
Menurut Edwin, kemampuan Indonesia memetik manfaat ekonomi dari AI bergantung pada kesiapan talenta, infrastruktur, dan keamanan teknologi. Investasi pada insinyur AI, profesional keamanan siber, ilmuwan data, pembuat kebijakan, serta tenaga pendidik dinilai penting agar transformasi digital dapat berlangsung aman dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Keamanan siber merupakan investasi strategis untuk pertumbuhan dan inovasi,” ujar Edwin dalam acara tersebut.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Keamanan Siber Harus Dibangun Sejak Awal
Edwin menjelaskan, keamanan siber perlu menjadi bagian dari proses pengembangan teknologi sejak awal melalui prinsip safety by design. Pendekatan ini tidak hanya ditujukan untuk melindungi pengguna dari risiko serangan, tetapi juga menjaga kepercayaan publik terhadap teknologi baru.
Penguatan keamanan tersebut diperlukan seiring dengan pemanfaatan teknologi, termasuk AI dan komputasi kuantum. Edwin menilai keamanan siber tidak cukup dipahami sebagai perlindungan yang baru digunakan ketika terjadi insiden.
“Keamanan siber bukan sekadar sabuk pengaman bagi seluruh transformasi digital. Perannya jauh lebih luas daripada itu,” tegasnya.
Menurut dia, keamanan siber juga berfungsi sebagai sistem pengendali, peringatan, dan navigasi. Peran itu membantu organisasi mengelola aktivitas digital serta memastikan data dipindahkan dan digunakan secara aman.
Dalam pengembangan AI, Edwin menyoroti pentingnya keamanan data. Kebocoran data disebut sebagai salah satu ancaman utama yang harus diantisipasi agar pemanfaatan AI berlangsung secara aman dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, pengembangan AI perlu berjalan beriringan dengan penguatan pelindungan data dan keamanan siber. Organisasi yang mengadopsi teknologi baru juga didorong membangun ekosistem keamanan secara menyeluruh, bukan hanya mengandalkan perlindungan setelah risiko muncul.
Investasi Talenta AI dan Keamanan Siber
Selain infrastruktur dan teknologi, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi digital. Edwin menegaskan Indonesia perlu terus mengembangkan tenaga yang memiliki keahlian di bidang AI, keamanan siber, ilmu data, kebijakan, dan pendidikan.
Penguatan kapasitas tersebut tidak hanya ditujukan bagi calon tenaga kerja, tetapi juga bagi pekerja yang telah memasuki dunia profesional. Program peningkatan keterampilan atau upskilling dan pelatihan ulang atau reskilling diperlukan agar pekerja mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan industri.
Program tersebut sekaligus membuka kesempatan bagi lebih banyak tenaga kerja untuk berpartisipasi dalam transformasi digital. Perubahan kebutuhan industri membuat kemampuan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri menjadi bagian penting dari pengembangan ekosistem digital.
“Transformasi digital dapat memberikan manfaat yang lebih luas ketika masyarakat memiliki keterampilan dan kepercayaan diri untuk berpartisipasi di dalamnya,” kata Edwin.
Kolaborasi Pemerintah, Industri, dan Akademisi
Edwin menambahkan, pembangunan ekosistem digital yang tepercaya membutuhkan kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat sipil. Masing-masing pihak memiliki peran dalam memastikan perkembangan teknologi tetap sejalan dengan kepentingan masyarakat dan prinsip keamanan.
Pemerintah berperan menetapkan arah kebijakan serta membangun aturan yang tepercaya. Industri bertugas mengembangkan dan menerapkan solusi teknologi, sedangkan akademisi berkontribusi melalui penelitian dan pengembangan pengetahuan.
Sementara itu, masyarakat sipil berperan memastikan akuntabilitas sekaligus membawa perspektif publik ke dalam proses pengembangan teknologi. Kolaborasi lintas sektor tersebut dibutuhkan agar kemajuan teknologi tidak hanya berorientasi pada inovasi, tetapi juga memperhatikan keamanan dan kepentingan masyarakat.
“Indonesia merupakan pasar yang besar bagi teknologi digital. Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat perannya sebagai pencipta inovasi,” ujar Edwin.
Menurut Edwin, peluang itu membutuhkan investasi berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas nasional. Upaya tersebut perlu disertai kemauan untuk terus belajar, beradaptasi, dan berkolaborasi.
Ia menyatakan pilihan yang diambil saat ini akan memengaruhi kemampuan Indonesia dalam menciptakan nilai ekonomi dan sosial pada era AI.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















