Headline.co.id, Jakarta ~ Studi Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON) menguji efektivitas suplementasi gizi untuk menurunkan kejadian tuberkulosis (TB) pada kontak serumah pasien TB. Penelitian uji klinis ini melibatkan 78.400 peserta di Indonesia dan Tanzania, termasuk 42.260 peserta dari Indonesia. Di Indonesia, studi tersebut direncanakan berlangsung di Jakarta, Depok, Bogor, dan Lombok karena wilayah-wilayah itu mewakili kawasan barat dan timur dengan angka TB yang tinggi. Penelitian ini diharapkan menghasilkan bukti ilmiah untuk memperkuat strategi pencegahan dan mendukung percepatan eliminasi TB.
Principal Investigator PHOTON Indonesia dari Center for Global Resilience in Health and Nutrition dan Department of Nutrition, Faculty of Medicine, Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. dr. Rina Agustina, M.Gizi, mengatakan PHOTON dirancang untuk menilai manfaat intervensi gizi terhadap risiko TB pada kelompok yang tinggal serumah dengan pasien TB.
“Tuberkulosis adalah tantangan besar bagi kesehatan masyarakat. Penanggulangan TB memerlukan pendekatan komprehensif, mulai dari penemuan kasus, diagnosis dini, pengobatan, hingga penguatan upaya pencegahan,” ujar Rina dalam pemaparan penelitian PHOTON yang diterima , Kamis (22/10/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Berdasarkan Global Tuberculosis Report Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2025, terdapat sekitar 10,7 juta orang yang menderita TB di seluruh dunia. Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara dengan beban TB tertinggi.
Studi PHOTON Bandingkan Tiga Pendekatan Gizi
PHOTON mengevaluasi efektivitas suplementasi gizi selama enam bulan dalam menurunkan kejadian TB yang terkonfirmasi secara bakteriologis. Penilaian itu mencakup TB paru maupun TB ekstraparu pada kontak serumah pasien TB.
Tim peneliti akan membandingkan tiga pendekatan intervensi. Pendekatan pertama menggunakan vitamin B. Pendekatan kedua mengombinasikan vitamin B dan multimikronutrien. Sementara itu, pendekatan ketiga menggabungkan vitamin B, multimikronutrien, serta suplementasi protein-energi seimbang.
Ketiga kelompok intervensi tersebut akan dibandingkan dengan kelompok plasebo. Evaluasi manfaat intervensi direncanakan berlangsung selama 24 bulan untuk menilai efektivitas masing-masing pendekatan dalam menurunkan kejadian TB.
“Studi ini bertujuan mengevaluasi efikasi suplementasi gizi selama enam bulan dalam menurunkan kejadian TB yang terkonfirmasi secara bakteriologis, baik TB paru maupun ekstraparu, pada kontak serumah pasien TB,” jelas Rina.
Pengembangan PHOTON salah satunya didasarkan pada studi RATIONS di India yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet. Studi tersebut menunjukkan dukungan gizi dapat menurunkan kejadian TB baru yang terkonfirmasi secara bakteriologis hingga 48 persen pada kontak serumah pasien TB.
Menurut Rina, keterkaitan TB dengan status gizi dan kondisi sosial ekonomi membuat intervensi gizi berpotensi menjadi strategi pelengkap bagi kelompok berisiko.
“Saya melihat eratnya hubungan TB dengan status gizi dan kondisi sosial ekonomi. Intervensi gizi berpotensi menjadi strategi pelengkap untuk melindungi kelompok berisiko dan mendukung percepatan eliminasi TB,” katanya.
Indonesia Berperan dalam Kepemimpinan Ilmiah
Di Indonesia, penelitian PHOTON dipimpin UI melalui Center for Global Resilience in Health and Nutrition. Pelaksanaannya bekerja sama dengan Summit Institute for Development, Siklus Indonesia, dan University of Oxford. Adapun penelitian di Tanzania dipimpin National Institute for Medical Research (NIMR).
Rina mengatakan Indonesia tidak hanya menjadi lokasi penelitian, tetapi juga berperan dalam kepemimpinan ilmiah studi tersebut.
“Indonesia tidak hanya menjadi lokasi penelitian, tetapi juga berperan aktif dalam kepemimpinan ilmiah, mulai dari pengembangan pertanyaan penelitian, penyusunan protokol hingga perancangan dan pelaksanaan studi bersama mitra internasional dan nasional,” tegas Rina.
Penelitian itu melibatkan ahli lintas disiplin, lain bidang gizi, pulmonologi, pediatri, epidemiologi, statistika, farmasi, imunologi, uji klinis teracak, dan kesehatan digital.
Pelaksanaan PHOTON didukung Kementerian Kesehatan serta melibatkan Program Nasional Penanggulangan TB, pemerintah daerah, dinas kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, komunitas, dan masyarakat. Secara global, penelitian ini mendapat dukungan dari Gates Foundation, Wellcome Trust, dan Novo Nordisk Foundation.
Perlindungan Peserta Jadi Prioritas
Rina menyebut keberhasilan PHOTON tidak hanya ditentukan oleh kualitas ilmiah penelitian. Dukungan pemerintah, kesiapan sistem pelayanan kesehatan, partisipasi masyarakat, kepatuhan peserta, dan retensi selama penelitian juga menjadi faktor penting.
Perlindungan peserta, kata dia, menjadi prioritas pada setiap tahapan studi. Peneliti akan menjalankan penelitian sesuai persyaratan etik, ketentuan regulasi, dan prinsip Good Clinical Practice yang berlaku.
“Kami menegaskan bahwa integritas ilmiah, kualitas penelitian, serta perlindungan hak, keselamatan, martabat, dan kerahasiaan peserta merupakan prioritas utama. Kami akan mematuhi persyaratan etik, ketentuan regulasi, dan prinsip Good Clinical Practice yang berlaku,” ujarnya.
PHOTON direncanakan berlangsung selama lima tahun. Penelitian tersebut diharapkan menghasilkan publikasi ilmiah dan bukti yang dapat digunakan untuk memperkuat kebijakan pencegahan TB di Indonesia maupun tingkat global.
“Kami berharap PHOTON akan menghasilkan publikasi ilmiah dan berkontribusi dalam penguatan strategi pencegahan TB, mendukung percepatan eliminasi TB, serta menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinan ilmiah dalam menjawab tantangan kesehatan global,” pungkasnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.















