Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat dukungan mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) karena puncak musim kemarau diprakirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan perkembangan karhutla, kondisi pascagempa Flores, serta dukungan data cuaca dan oseanografi untuk operasi pencarian dan penyelamatan kepada Presiden Prabowo Subianto. Laporan itu disampaikan dalam rapat terbatas secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (16/9/2026). BMKG mendukung penanganan melalui pemantauan atmosfer, sebaran asap, arah polutan, dan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Risiko Karhutla Masih Berlangsung
Dalam rapat tersebut, Faisal menjelaskan hasil analisis BMKG yang menunjukkan sebagian asap terpantau di wilayah Riau dipengaruhi pergerakan massa udara dari wilayah lain di Sumatera. Selain itu, kondisi musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Niño masih berpotensi meningkatkan risiko karhutla dalam beberapa pekan ke depan.
BMKG terus memantau kondisi atmosfer, sebaran asap, serta arah pergerakan polutan untuk mendukung langkah mitigasi pemerintah. Lembaga itu juga mendukung pelaksanaan OMC bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kementerian terkait, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Puncak musim kemarau diprakirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Oleh karena itu, upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan mitigasi perlu terus diperkuat sampai memasuki periode musim hujan,” ujar Faisal.
Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh jajaran pemerintah tetap menjaga kesiapsiagaan dan memperkuat koordinasi menghadapi potensi karhutla yang masih dapat terjadi dalam satu setengah bulan ke depan.
“Kita harus punya stamina dan ketahanan. Tadi sudah dilaporkan satu setengah bulan ke depan masih cukup rawan, tetapi kita akan mencari langkah-langkah solusi yang menyeluruh,” ujar Presiden.
Kondisi Pascagempa Flores Relatif Stabil
Selain membahas karhutla, BMKG melaporkan kondisi pascagempa Flores di Nusa Tenggara Timur yang saat ini relatif stabil. Situasi tersebut memungkinkan proses rehabilitasi dan rekonstruksi mulai dilakukan.
BMKG telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mendukung penyediaan data dan informasi geofisika. Data tersebut digunakan sebagai dasar pembangunan kembali yang lebih aman dan sesuai dengan kaidah bangunan tahan gempa.
Faisal mengatakan, BMKG telah berdiskusi dengan gubernur dan Kepala Dinas PUPR untuk menyampaikan hasil survei kondisi tanah. Informasi itu diharapkan dapat membantu mengarahkan proses pembangunan kembali di wilayah terdampak.
“Kami sudah berdiskusi dengan gubernur dan Kepala Dinas PUPR untuk memberikan hasil survei kondisi tanah sehingga pembangunan kembali dapat dilakukan secara lebih terarah dan sesuai dengan kaidah bangunan tahan gempa,” ujar Faisal.
Dukungan Data untuk Operasi Pencarian dan Penyelamatan
BMKG turut memberikan dukungan data meteorologi dan oseanografi dalam penanganan insiden KMP Virgo Transport 8. Dukungan tersebut diberikan untuk membantu proses pencarian dan penyelamatan melalui pemodelan pergerakan kapal berdasarkan data Automatic Identification System (AIS).
Selain pemodelan, BMKG menyampaikan informasi kondisi cuaca dan arus laut kepada instansi terkait. Informasi tersebut digunakan sebagai salah satu referensi dalam operasi pencarian dan penyelamatan.
“Pada saat kejadian, kondisi cuaca terpantau cerah berawan tanpa hujan, dengan kecepatan angin berkisar 15–20 knot, tinggi gelombang 1,5 hingga 2 meter, serta arus permukaan laut 0,4 sampai 1,2 knot. Informasi ini telah kami sampaikan kepada KSOP (Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan) dan digunakan sebagai salah satu referensi dalam operasi pencarian dan penyelamatan,” jelasnya.
Mitigasi Berbasis Data dan Peringatan Dini
Presiden juga menekankan pentingnya menjadikan penanganan karhutla saat ini sebagai pembelajaran untuk memperkuat sistem mitigasi pada masa mendatang. Pencegahan dan kesiapsiagaan dinilai perlu terus diperkuat agar penanganan karhutla dapat dilakukan secara cepat, terpadu, dan efektif.
Melalui dukungan data, informasi, dan layanan peringatan dini, BMKG terus mendukung pengambilan keputusan berbasis sains dalam penanganan bencana, pengurangan risiko, serta perlindungan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.






