Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengalokasikan dana sebesar Rp1,941 triliun untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi sektor pendidikan di Aceh. Dana ini menjadikan Aceh sebagai salah satu penerima dukungan terbesar dalam program pemulihan sarana pendidikan pascabencana. Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menyatakan bahwa alokasi ini merupakan bukti nyata perhatian pemerintah pusat terhadap pemulihan pendidikan di wilayah tersebut, terutama bagi sekolah-sekolah yang terdampak banjir dan bencana lainnya.
“Dari total sekitar Rp2,9 triliun dana rehab-rekon nasional, hampir Rp2 triliun dialokasikan untuk Aceh, tepatnya Rp1,941 triliun,” ujar Murthalamuddin saat mendampingi kunjungan kerja Mendikdasmen Abdul Mu’ti di Aceh, Senin (22/6/2026). Dana tersebut mencakup rehabilitasi dan rekonstruksi berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Kolaborasi dengan TNI
Untuk mempercepat pengerjaan di lapangan, Kemendikdasmen menggandeng Tentara Nasional Indonesia, khususnya Kodam Iskandar Muda, dalam pelaksanaan proyek rehabilitasi dan rekonstruksi. Kolaborasi ini dinilai efektif dalam mengatasi berbagai kendala teknis, termasuk keterbatasan tenaga kerja di sejumlah wilayah. Murthalamuddin menyebutkan bahwa sekitar 190 sekolah yang direhabilitasi melalui kerja sama ini ditargetkan dapat segera difungsikan pada tahun ajaran baru.
Dukungan Program Nasional
Selain pembangunan fisik, Pemerintah Aceh juga memastikan berbagai program prioritas nasional di sektor pendidikan berjalan optimal. Salah satunya adalah dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang, menurut Murthalamuddin, berjalan lancar tanpa kendala berarti. “Alhamdulillah, berbagai program pemerintah pusat dapat kami jalankan dengan baik di Aceh, termasuk MBG yang sejauh ini berjalan lancar,” katanya.
Tantangan dan Harapan
Murthalamuddin menambahkan bahwa tantangan berikutnya adalah pemulihan sarana pembelajaran yang rusak akibat banjir. Banyak sekolah, khususnya di jenjang SD dan SMP, kehilangan perangkat penting seperti komputer dan alat praktik. Ia berharap dukungan pemerintah pusat dapat berlanjut pada penguatan fasilitas pendidikan berbasis teknologi. “Tahun ini menjadi momentum penting. Setelah 21 tahun damai, Aceh mulai menunjukkan kebangkitan yang nyata, termasuk di sektor pendidikan,” ujarnya.
Investasi di bidang pendidikan ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan fondasi untuk membangkitkan generasi masa depan Aceh. “Semua yang dilakukan hari ini adalah ikhtiar bersama agar anak-anak Aceh bangkit dari keterbatasan dan memiliki masa depan yang lebih baik,” pungkas Murthalamuddin.





















