Headline.co.id, Jakarta ~ Penyakit dengue masih menjadi ancaman bagi jutaan orang di seluruh dunia, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Dengan tantangan perubahan iklim, mobilitas penduduk yang meningkat, dan sistem kesehatan yang masih perlu diperkuat, negara-negara ASEAN kembali menegaskan komitmen mereka untuk mengakhiri kematian akibat dengue.
Pada peringatan ASEAN Dengue Day 2026 yang diperingati setiap tanggal 15 Juni, ASEAN melalui pernyataan resminya di Jakarta, Sabtu (13/6/2026), mengangkat tema yang menekankan pentingnya kerja sama lintas negara, lintas sektor, dan partisipasi aktif masyarakat dalam mengendalikan dengue.
Dengue merupakan salah satu penyakit yang ditularkan oleh nyamuk dengan angka kejadian tertinggi di dunia. Organisasi kesehatan internasional memperkirakan sekitar 390 juta infeksi dengue terjadi setiap tahun. Dalam dua dekade terakhir, jumlah kasus terus meningkat, menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat global.
ASEAN mengidentifikasi beberapa faktor yang memperburuk situasi ini. Perubahan iklim yang menyebabkan kenaikan suhu, curah hujan ekstrem, dan peningkatan kelembapan menciptakan lingkungan yang ideal bagi nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, dua spesies utama penyebar virus dengue, untuk berkembang biak.
Selain itu, masih ada tantangan dalam kapasitas diagnosis dan laboratorium, penguatan surveilans penyakit dan vektor, serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan. Oleh karena itu, negara-negara ASEAN mendorong pendekatan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Langkah-langkah yang diambil meliputi penguatan surveilans penyakit dan vektor secara proaktif, pengendalian vektor terpadu, respons cepat terhadap kasus, diagnosis dan tata laksana klinis yang tepat, serta komunikasi risiko yang efektif bagi kelompok rentan.
Peringatan ASEAN Dengue Day juga menjadi ajang berbagi pengalaman dan inovasi antar pemangku kepentingan, baik dari pemerintah, sektor swasta, kalangan akademisi, maupun masyarakat sipil. Pemanfaatan teknologi dan pengembangan pengetahuan baru dinilai penting untuk memperkuat pengendalian dengue yang adaptif terhadap tantangan masa depan.
Lebih dari itu, ASEAN menegaskan bahwa keberhasilan mencapai target nol kematian akibat dengue tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan. Keterlibatan masyarakat melalui pemberantasan sarang nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengenali gejala dengue sejak dini merupakan fondasi utama dalam memutus rantai penularan.
Cita-cita mewujudkan ASEAN bebas kematian akibat dengue pada 2030 merupakan tanggung jawab bersama. Dengan solidaritas, inovasi, dan aksi nyata dari seluruh lapisan masyarakat, masa depan yang lebih sehat bukan sekadar harapan, melainkan tujuan yang dapat dicapai bersama.






















