Headline.co.id, Jakarta ~ Maniza Zaman, perwakilan UNICEF di Indonesia, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak berbasis riset untuk mengatasi kesenjangan literasi dan numerasi yang masih menjadi tantangan dalam sistem pendidikan nasional. Hal ini disampaikan dalam acara pencanangan kolaborasi penguatan literasi dan numerasi di kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Maniza menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak atas pendidikan berkualitas sebagaimana dijamin dalam Konvensi Hak Anak. Oleh karena itu, seluruh pemangku kepentingan perlu bekerja sama untuk memastikan hak tersebut dapat terpenuhi secara merata. “Setiap anak berhak atas pendidikan berkualitas. Upaya kolektif ini merupakan investasi penting agar anak-anak dapat mencapai potensi penuh mereka,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa dunia saat ini masih menghadapi krisis pembelajaran global. Berdasarkan berbagai asesmen internasional, hampir 7 dari 10 anak di dunia mengalami kemiskinan belajar, yaitu tidak mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia 10 tahun. Di Indonesia, meskipun akses pendidikan dasar telah mendekati universal dengan tingkat partisipasi mencapai 97 persen, tantangan kualitas masih signifikan. Data menunjukkan sekitar 68 persen siswa mencapai kompetensi minimum literasi, sementara numerasi berada pada angka 62 persen.
Menurut Maniza, kondisi tersebut menegaskan perlunya intervensi sistemik yang tidak hanya berfokus pada kebijakan nasional, tetapi juga implementasi di tingkat daerah. “Untuk mencapai kemajuan berkelanjutan, kita harus terus berinvestasi dalam penyesuaian sistemik, khususnya dalam menerjemahkan kebijakan menjadi praktik di lapangan,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, UNICEF bersama pemerintah Indonesia dan mitra pembangunan seperti Tanoto Foundation dan Bill & Melinda Gates Foundation mengembangkan kolaborasi berbasis riset guna memperkuat kualitas pembelajaran di sekolah. Program ini akan mengedepankan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), inovatif, dan menyenangkan, serta berfokus pada penguatan keterampilan dasar siswa. Selain itu, hasil program akan didokumentasikan sebagai praktik baik yang dapat direplikasi secara luas oleh pemerintah pusat dan daerah.
UNICEF juga menegaskan komitmennya untuk mendukung prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran, sekaligus menutup kesenjangan capaian pendidikan di Indonesia. “Kami berharap kolaborasi ini menghasilkan dampak nyata dan memastikan semua anak di Indonesia memperoleh pendidikan berkualitas,” kata Maniza.
Langkah ini sejalan dengan agenda pembangunan nasional Asta Cita dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang inklusif dan merata, serta mendorong transformasi pendidikan berbasis kolaborasi dan bukti (evidence-based policy). Melalui sinergi lintas sektor dan pemanfaatan data, pemerintah bersama mitra pembangunan menargetkan peningkatan kualitas pembelajaran yang berkelanjutan, sekaligus mempercepat terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.





















