Headline.co.id, Jogja ~ Penyebaran virus Nipah kembali menjadi perhatian global karena tingkat fatalitasnya yang tinggi. Virus ini dapat menyerang sistem saraf dan menimbulkan komplikasi serius hingga kematian. Meskipun belum ada kasus pada manusia di Indonesia, kesamaan faktor ekologis dengan negara terdampak membuat kewaspadaan tetap diperlukan. Penjelasan medis diperlukan agar masyarakat memahami risiko secara proporsional.
Dr. M. Edwin Widyanto Daniwijaya, Ph.D., Sp.MK, dosen Departemen Mikrobiologi FK-KMK UGM dan Dokter Spesialis Mikrobiologi RSA UGM, menyatakan bahwa tingkat kematian akibat virus Nipah sangat bergantung pada kesiapan sistem kesehatan dan kecepatan penanganan klinis. “Case fatality rate virus Nipah diperkirakan berkisar 40 hingga 75 persen, bergantung pada sistem kesehatan dan penanganan klinis,” ungkap Edwin pada Selasa (10/2).
Virus Nipah memiliki kemampuan menyerang sistem saraf pusat dan dapat menyebabkan perburukan klinis yang cepat. Infeksi dapat berkembang menjadi ensefalitis atau peradangan serius pada jaringan otak dengan gejala neurologis yang serius, seperti penurunan kesadaran dan kejang. “Virus ini bisa menyerang otak dan memicu penurunan kesadaran, kejang, hingga kematian dalam waktu relatif singkat,” ujar Edwin.
Gejala awal infeksi virus Nipah sering kali tidak khas, sehingga sulit dikenali sejak dini. Edwin menjelaskan bahwa pada fase awal, keluhan yang muncul menyerupai infeksi virus pada umumnya, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan nyeri tenggorokan. Keterlambatan pengenalan penyakit dapat meningkatkan risiko perburukan.
Seiring perkembangan penyakit, gejala dapat memburuk dalam hitungan hari, dengan disorientasi, penurunan kesadaran, dan kejang sebagai tanda keterlibatan sistem saraf. Gangguan pernapasan juga dapat terjadi pada beberapa kasus. Edwin menekankan pentingnya kewaspadaan sejak fase awal. “Perjalanan penyakitnya bisa cepat memburuk, sehingga kewaspadaan sejak fase awal sangat penting,” tutur Edwin.
Mengenai potensi kemunculan virus Nipah di Indonesia, Edwin menyatakan bahwa hingga kini belum ada laporan kasus pada manusia. Namun, faktor risiko tetap perlu diperhatikan karena Indonesia berada di wilayah ekologi yang serupa dengan negara endemis. “Potensi spillover tetap ada meski risikonya saat ini masih dinilai rendah,” Edwin menjelaskan.
Jika ditemukan pasien dengan gejala yang mengarah ke virus Nipah, rumah sakit rujukan akan mengikuti protokol penanganan penyakit infeksi emerging. Langkah awal meliputi identifikasi kasus berdasarkan riwayat paparan dan perjalanan pasien, isolasi, serta penerapan kewaspadaan standar dan transmisi. “Penanganan awal mencakup isolasi, pelaporan cepat, pemeriksaan laboratorium molekuler, serta terapi suportif intensif,” katanya.
Edwin menekankan bahwa Indonesia telah memiliki sistem surveilans penyakit infeksi emerging serta jejaring rumah sakit rujukan di berbagai daerah. Pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 dan flu burung turut memperkuat kesiapan sistem kesehatan nasional. Meski demikian, penguatan kapasitas ruang isolasi dan sumber daya manusia masih dibutuhkan di sejumlah wilayah. “Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada dengan menerapkan langkah pencegahan sederhana,” pesan Edwin.






















